150 Juta Barel Minyak Rusia Siap Masuk Bertahap

 Gana Buana
24/4/2026 15:44
150 Juta Barel Minyak Rusia Siap Masuk Bertahap
Indonesia akan mengimpor 150 juta barel minyak dari Rusia secara bertahap hingga 2026.(Antara)

PEMERINTAH Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan rencana impor minyak mentah dari Rusia sebesar 150 juta barel akan direalisasikan secara bertahap hingga akhir 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah tekanan geopolitik global.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyebutkan bahwa skema impor tidak bisa dilakukan sekaligus, mengingat keterbatasan kapasitas penyimpanan dalam negeri. Oleh karena itu, distribusi pasokan akan disesuaikan dengan kesiapan infrastruktur energi nasional.

“Impor dilakukan bertahap, karena membutuhkan fasilitas storage yang memadai,” ujar Yuliot di Jakarta, Jumat.

Minyak impor tersebut tidak hanya dialokasikan untuk kebutuhan transportasi masyarakat, tetapi juga akan menopang sektor industri, pertambangan, hingga menjadi bahan baku petrokimia apabila diperlukan. Pemerintah menargetkan volume tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan energi nasional hingga akhir tahun.

Di sisi lain, Indonesia tetap membuka jalur pasokan dari negara lain, termasuk Amerika Serikat. Dengan kebutuhan minyak harian mencapai sekitar 1,6 juta barel dan produksi domestik yang hanya berkisar 600 ribu barel per hari, Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 1 juta barel per hari.

Jika dihitung secara tahunan, volume 150 juta barel dari Rusia dinilai belum cukup menutup kebutuhan nasional. Karena itu, diversifikasi sumber energi tetap menjadi prioritas pemerintah.

Kesepakatan ini sendiri merupakan hasil diplomasi energi tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan di Moskow, Rusia awalnya menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak dengan harga khusus, yang kemudian diperluas menjadi total 150 juta barel sebagai opsi tambahan.

Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan langkah strategis menghadapi potensi krisis energi global.

Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi penting di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia yang dipicu konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dengan masuknya Rusia sebagai pemasok utama baru, Indonesia kini memperkuat posisi tawar dalam rantai pasok energi global sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan di masa mendatang. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya