Raja Charles III Tiba di Washington: Diplomasi "Keep Calm" di Tengah Bayang-bayang Teror dan Ketegangan

Thalatie K Yani
28/4/2026 05:55
Raja Charles III Tiba di Washington: Diplomasi
Raja Charles III dan Ratu Camilla tiba di Washington untuk kunjungan kenegaraan pertama sejak naik takhta. (Royal Family)

RAJA Charles III dan Ratu Camilla tiba di Gedung Putih pada Senin (27/4) untuk memulai kunjungan kenegaraan bersejarah. Kedatangan ini terjadi di saat Washington masih terguncang  insiden penembakan akhir pekan lalu, serta meningkatnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Inggris terkait konflik di Iran.

Bendera Union Jack tampak menghiasi jalanan di luar Gedung Putih, tempat Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump bersiap menjamu pasangan kerajaan tersebut. Agenda dimulai dengan jamuan teh pribadi dan tur ke fasilitas ternak lebah yang baru diperluas di South Lawn.

"Ibu Negara Melania Trump memimpin seluruh persiapan kunjungan kenegaraan ini, yang akan menghormati hubungan istimewa dan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Inggris," ujar Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Keamanan Ketat Pasca-Penembakan

Kunjungan empat hari yang bertujuan memperingati 250 tahun kemerdekaan AS ini berlangsung di bawah pengamanan super ketat. Sabtu lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di hotel Washington Hilton saat acara makan malam koresponden Gedung Putih, yang memaksa agen Secret Service mengevakuasi presiden dari podium.

Meski demikian, pihak Istana Buckingham memastikan kunjungan tetap berjalan sesuai jadwal setelah berkonsultasi dengan otoritas AS.

"Raja dan Ratu sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja cepat untuk memastikan kunjungan ini tetap terlaksana," ungkap juru bicara istana.

Ketegangan Diplomatik dan "Soft Power"

Dibalik kemegahan protokol, hubungan kedua sekutu ini sedang diuji. Trump sebelumnya melontarkan kritik keras terhadap penolakan Inggris mendukung aksi militer terhadap Iran, bahkan mengejek Perdana Menteri Keir Starmer dengan menyebutnya "bukan Winston Churchill".

Namun, Trump tampak memisahkan kekesalannya terhadap pemerintah Inggris dengan kekagumannya pada sosok Raja Charles. Trump berulang kali menyebut Charles sebagai "pria hebat" dan berharap kehadiran pasangan kerajaan tersebut dapat menstabilkan hubungan kedua negara.

Duta Besar Inggris untuk AS, Christian Turner, menekankan kekuatan hubungan ini dalam program Face the Nation di CBS. "Kami memiliki sedikit perbedaan pendapat pada tahun 1776. Kami telah melaluinya... Hubungan ini bertahan karena sangat dalam di bidang keamanan."

Bayang-bayang Skandal Pangeran Andrew

Kunjungan ini juga dibayangi oleh desakan agar Raja Charles memberikan perhatian pada kasus Jeffrey Epstein yang melibatkan adiknya, Pangeran Andrew. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ro Khanna, mendesak Raja untuk bertemu dengan para penyintas Epstein sebagai bentuk dukungan terhadap akuntabilitas global.

Meski sempat tersiar kabar Ratu Camilla ingin bertemu dengan para korban, pejabat istana menegaskan tidak ada agenda tersebut selama perjalanan ini. Pihak istana merujuk pada kekhawatiran hukum terkait investigasi yang masih berlangsung di AS dan Inggris.

Setelah agenda di Washington, Raja Charles dijadwalkan terbang ke New York untuk mengunjungi monumen peringatan 11 September sebelum mengakhiri kunjungannya di Virginia untuk bertemu dengan kelompok konservasi lingkungan. Ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Charles ke AS sejak ia naik takhta pada tahun 2022. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya