Teheran Memanas, Pejabat Iran Sebut Negosiasi dengan AS Kini Tak Rasional

Thalatie K Yani
22/4/2026 05:33
Teheran Memanas, Pejabat Iran Sebut Negosiasi dengan AS Kini Tak Rasional
Rudal balistik kini dipamerkan di berbagai kota.(Telegram/Mehr News)

ESKALASI ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat mencapai titik baru pasca-pengumuman terbaru dari Presiden Donald Trump. Sejumlah pejabat tinggi dan anggota parlemen Iran memberikan reaksi keras melalui media sosial, mengisyaratkan berakhirnya ruang diplomasi antara kedua negara.

Anggota Parlemen Iran, Mahmoud Nabavian, yang pernah menjadi bagian dari delegasi dalam putaran pertama pembicaraan Iran-AS di Islamabad, menegaskan sikap skeptisnya. Melalui platform X, ia menyatakan bahwa situasi saat ini telah mengubah peta politik secara drastis.

"Mulai sekarang, bernegosiasi dengan AS murni bersifat merugikan dan tidak rasional," tegas Nabavian.

Peringatan Militer dan Display Rudal Balistik

Senada dengan Nabavian, juru bicara markas pusat Khatam al-Anbiya, komando militer tertinggi Iran, memberikan peringatan keras terkait kesiapan tempur mereka. Pihak militer menegaskan tidak akan ragu melakukan serangan balasan jika wilayah Iran menjadi target.

"Jika terjadi serangan terhadap Iran, pasukan kami akan menyerang sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, memberikan pelajaran lain yang bahkan lebih keras kepada AS dan Israel," bunyi pernyataan resmi tersebut.

Menariknya, dalam berbagai pernyataan yang dirilis media lokal Iran setelah pengumuman Trump, sama sekali tidak ada penyebutan mengenai perpanjangan gencatan senjata.

Ketegangan di level pejabat tersebut juga tercermin di jalanan. Dalam aksi unjuk rasa pro-pemerintah di alun-alun utama Teheran, militer memamerkan rudal balistik Ghadr. Di titik lain di ibu kota, rudal balistik Khorramshahr-4 turut dipajang dengan pesan provokatif yang menargetkan infrastruktur gas di Qatar.

Mobilisasi Massa di Berbagai Kota

Aksi serupa tidak hanya terjadi di Teheran. Kota-kota besar lain seperti Shiraz, Tabriz, dan Zanjan juga menampilkan persenjataan berat dalam reli-reli malam hari. Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, pemerintah Iran secara intensif mengerahkan massa ke alun-alun kota.

Langkah ini dinilai sebagai upaya ganda: memproyeksikan dukungan publik terhadap kebijakan pemerintah serta secara strategis membatasi ruang gerak bagi kelompok oposisi untuk berkumpul di area publik setelah hari gelap. Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri Iran maupun Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf belum memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan terbaru ini. (BBc/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya