Drone MQ-4C Triton AS Jatuh di Teluk Persia, Kerugian Capai Rp4 Triliun

Wisnu Arto Subari
17/4/2026 06:17
Drone MQ-4C Triton AS Jatuh di Teluk Persia, Kerugian Capai Rp4 Triliun
Ilustrasi.(Al Jazeera)

AMERIKA Serikat kehilangan salah satu pesawat nirawak pengintai tercanggih dan termahalnya, MQ-4C Triton, di Teluk Persia, dalam perang di Iran. Pesawat nirawak ini berharga sekitar US$200 juta-US$240 juta atau sekitar Rp4 triliun. Harganya kira-kira dua kali lipat harga dua jet tempur Lockheed Martin F-35 yang versi upgrade-nya berharga hampir US$100 juta atau Rp1,7 triliun.

Pesawat nirawak MQ-4C dilaporkan hilang setelah mengirimkan sinyal darurat kode 7700 alert selama operasi di dekat Selat Hormuz pada 9 April. Komando Angkatan Laut Amerika Serikat mengonfirmasi hilangnya satu MQ-4C dalam ringkasan kecelakaan yang dirilis pada Selasa (14/4).

Menurut ringkasan kecelakaan yang dirilis oleh Angkatan Laut AS, pesawat pengintai tanpa awak ketinggian tinggi dan daya tahan lama (HALE) tersebut jatuh di Teluk Persia.

Berdasarkan sistem klasifikasi yang digunakan oleh Departemen Perang Amerika Serikat, setiap insiden yang melibatkan kerusakan melebihi US$2,5 juta disebut sebagai kecelakaan Kelas A. Pesawat pengintai yang terlibat dalam insiden terbaru ini diperkirakan bernilai sekitar US$$240 juta-US$250 juta, menurut CBS News yang berbasis di AS.

Pada 9 April, laporan berita menyebutkan bahwa drone MQ-4C ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran, tetapi sekarang, Komando Angkatan Laut AS mengatakan bahwa drone tersebut jatuh. Ringkasan insiden dari Angkatan Laut AS tidak memublikasikan detail yang jelas tentang kejadian tersebut dan hanya mengatakan bahwa drone tersebut jatuh dan tidak ada personel yang terluka.

MQ-4C Triton adalah salah satu platform pengawasan tanpa awak tercanggih Angkatan Laut AS, yang mampu melakukan misi dengan daya tahan lama dan pengintaian maritim di area yang luas. Pesawat ini memainkan peran penting dalam memantau jalur pelayaran, melacak aktivitas militer, dan menjaga kesadaran situasional di wilayah laut yang luas.

Ini bukan pertama kali drone pengawasan AS hilang di wilayah tersebut. Insiden serupa terjadi pada 2019, ketika Iran menembak jatuh drone RQ-4A Global Hawk, yang secara tajam meningkatkan ketegangan antara kedua negara.

AS kehilangan drone senilai berapa?

Sejak 1 April, AS kehilangan 24 drone MQ-9 Reaper ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita ANI mengutip CBS News. Laporan tersebut menambahkan bahwa kerugian ini diperkirakan mencapai US$720 juta atau sekitar Rp12 triliun.

Perlu dicatat bahwa satu drone MQ-9 Reaper dapat berharga sekitar US$$30 juta atau lebih. Drone MQ-9 Reaper, yang diproduksi oleh General Atomics Aeronautical Systems, adalah pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh yang terutama digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Pesawat ini juga mampu melakukan serangan presisi.

Pentingnya drone MQ-4C Triton

Drone yang terlibat dalam kecelakaan baru-baru ini, MQ-4C Triton, adalah pesawat tanpa awak ketinggian tinggi dan berdaya tahan lama yang dikembangkan oleh Northrop Grumman.

MQ-4C Triton mengisi celah penting dalam peperangan laut modern dengan memberikan kesadaran domain maritim yang luas dan berkelanjutan tanpa membahayakan awak manusia. Pesawat ini berfungsi sebagai pengganda kekuatan bagi Pasukan Patroli dan Pengintaian Maritim (MPRF) Angkatan Laut, beroperasi dalam koordinasi erat dengan pesawat Boeing P-8A Poseidon berawak. Sementara P-8 ditugaskan untuk misi dinamis jarak pendek, Triton memastikan pengawasan berkelanjutan di wilayah samudra yang luas.

MQ-4C Triton beroperasi pada ketinggian di atas 50.000 kaki selama lebih dari 24 jam, dengan jangkauan hampir 7.400 mil laut. Menurut pembuatnya, Northrop Grumman, pesawat ini dilengkapi dengan rangkaian sensor multiintelijen 360 derajat, memungkinkan pengawasan area luas dan deteksi ancaman yang cepat.

Platform ini dapat mengirimkan data secara real-time ke aset militer lain, memfasilitasi operasi multi-domain yang terkoordinasi. Pesawat ini memberikan cakupan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) hingga empat kali lipat dibandingkan sistem otonom lain, sambil mempertahankan ketinggian dan daya tahan yang tinggi.

Northrop Grumman mengeklaim pesawat ini menawarkan efektivitas operasional 33% lebih besar, membutuhkan 60% lebih sedikit jam terbang, dan biaya operasionalnya hampir setengahnya dibandingkan platform ketinggian menengah.

Kehilangan ini menandai pukulan besar lain bagi AS yang kehilangan aset udara penting, termasuk E-3 Sentry AWACS, A-10 Thunderbolt II Warthog, C-130 Hercules, dan jet tempur F-15E, dalam perang. (India Today/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya