Usai Iran, Trump Sebut Kuba Jadi Target Berikutnya

Ferdian Ananda Majni
14/4/2026 11:06
Usai Iran, Trump Sebut Kuba Jadi Target Berikutnya
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait kebijakan luar negeri Amerika Serikat dengan menyinggung kemungkinan langkah terhadap Kuba setelah konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyebut Kuba sebagai negara yang gagal dan mengisyaratkan bahwa Washington bisa mengalihkan fokus ke negara tersebut setelah operasi militernya di Iran selesai. 

"Kuba adalah negara yang gagal dan kita akan melakukan ini. Kita mungkin akan singgah ke Kuba setelah kita selesai dengan ini," kata Trump dikutip Anadolu, Selasa (14/4).

Ia juga menilai negara itu telah dikelola dengan sangat buruk selama bertahun-tahun.

Trump turut menyinggung komunitas Kuba-Amerika di AS yang menurutnya banyak memberikan dukungan politik kepadanya. Ia mengeklaim kelompok tersebut mengalami perlakuan buruk, termasuk kekerasan terhadap anggota keluarga mereka di Kuba.

Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. Ia menegaskan tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk melakukan agresi militer terhadap negaranya dan memperingatkan bahwa rakyat Kuba siap melawan jika diserang.

"Tidak ada pembenaran bagi Amerika Serikat untuk melancarkan agresi militer terhadap Kuba," sebut Diaz-Canel. Ia menambahkan bahwa warga Kuba siap mempertahankan negara mereka bahkan jika harus mengorbankan nyawa.

Ketegangan antara Havana dan Washington memang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah AS memperketat sanksi ekonomi terhadap Kuba. 

Pemerintah Kuba menilai kebijakan tersebut sebagai tindakan genosida dan kejam karena memperparah krisis ekonomi dan energi di negara itu.

Kuba saat ini tengah menghadapi kesulitan berkepanjangan, termasuk kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik bergilir, serta keterbatasan akses terhadap pangan dan obat-obatan. 

Pemerintah Kuba menyebut kondisi ini sebagai dampak langsung dari sanksi AS, sementara Washington menilai persoalan tersebut berasal dari masalah struktural ekonomi domestik.

Di tengah meningkatnya ketegangan, kedua negara disebut masih menjaga komunikasi terbatas. Namun, pernyataan terbaru Trump dinilai bertolak belakang dengan janjinya saat kampanye bahwa ia menyatakan tidak akan memulai perang baru, melainkan mengakhiri konflik yang ada. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya