Trump Serang Paus Leo XIV "Lemah", PM Italia Giorgia Meloni Akhirnya Angkat Bicara

Thalatie K Yani
14/4/2026 05:22
Trump Serang Paus Leo XIV
PM Italia Giorgia Meloni dan Paus Leo(Instagram)

HUBUNGAN diplomatik antara Amerika Serikat dan Vatikan memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan serangan verbal tajam terhadap Paus Leo XIV. Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni akhirnya memecah keheningan dengan menyebut pernyataan Trump "tidak dapat diterima."

Kritik Trump bermula dari unggahan panjang di platform Truth Social, di mana ia menuduh pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut "lemah terhadap kejahatan dan sangat buruk bagi kebijakan luar negeri." Trump bahkan menegaskan kepada wartawan bahwa dirinya "bukan penggemar berat" sang Paus.

Pembelaan dari Roma

PM Giorgia Meloni, yang dikenal sebagai sekutu dekat Trump sekaligus penganut Katolik yang taat, sebelumnya sempat ragu untuk mengecam pernyataan sang Presiden. Namun, tekanan dari partai oposisi Italia akhirnya mendorongnya untuk mengeluarkan pernyataan resmi.

"Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah hal yang benar serta normal baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk segala bentuk perang," tegas Meloni dalam pernyataan tertulisnya.

Senada dengan Meloni, mitra koalisinya, Matteo Salvini dari partai populisme League, turut menyayangkan tindakan Trump. "Menyerang Paus... sepertinya bukan hal yang berguna atau cerdas untuk dilakukan," ujar Salvini.

Paus Leo XIV: "Saya Tidak Takut"

Di tengah serangan tersebut, Paus Leo XIV tetap tenang saat memulai perjalanan luar negerinya ke Afrika. Berbicara kepada wartawan dalam penerbangan menuju Aljazair, sang Pontifex menegaskan tidak ingin terjebak dalam debat kusir dengan Trump, namun ia juga tidak akan mundur dari komitmennya menyuarakan perdamaian.

"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, atau menyuarakan pesan Injil dengan lantang, yang saya yakini sebagai tugas saya di sini, tugas Gereja di sini," ujar Paus. "Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tidak bersalah terbunuh. Saya pikir seseorang harus berdiri dan berkata: ada cara yang lebih baik untuk melakukan ini."

Paus Leo XIV memang menjadi kritikus vokal terhadap keterlibatan AS dalam konflik Iran. Ia menyebut ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran sebagai sesuatu yang "benar-benar tidak dapat diterima" dan mendesak adanya jalur damai (off-ramp) untuk mengakhiri konflik.

Retorika Tajam Trump

Trump, di sisi lain, justru melipatgandakan serangannya pada hari Senin dengan menyatakan tidak akan meminta maaf kepada Paus yang ia sebut "sangat lemah." Trump bahkan mengklaim Paus Leo terpilih karena latar belakangnya sebagai orang Amerika yang dianggap bisa menangani dirinya.

"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," klaim Trump tanpa bukti. Ia juga menuduh Paus sebagai sosok liberal yang tidak percaya pada penegakan hukum.

Serangan langsung terhadap Paus ini tergolong langka dalam sejarah politik modern. Pengamat Katolik Italia, Massimo Faggioli, bahkan membandingkan agresivitas Trump dengan era kelam masa lalu. "Bahkan Hitler atau Mussolini tidak menyerang Paus secara langsung dan publik seperti ini," ujarnya.

Perselisihan ini diprediksi akan berdampak pada peta politik AS, mengingat terdapat lebih dari 70 juta warga Katolik di Amerika Serikat, sekitar 20% dari total populasi, termasuk Wakil Presiden JD Vance. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya