PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perdebatan nasional setelah berpartisipasi dalam maraton Amerika Membaca Alkitab. Dalam video yang direkam sebelumnya di Ruang Oval, presiden berusia 79 tahun tersebut membacakan kutipan dari Perjanjian Lama, hanya seminggu setelah ia menghebohkan publik dengan unggahan gambar AI yang menyerupai sosok religius, Yesus.
Duduk di belakang Meja Resolute, Trump membacakan 2 Tawarikh 7:11–22, bagian kitab suci yang sering dikutip oleh kelompok yang meyakini AS didirikan sebagai negara Kristen. "Jika umat-Ku, yang disebut dengan nama-Ku, merendahkan diri dan berdoa... maka Aku akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka dan akan menyembuhkan tanah mereka," ucap Trump dalam pidato berdurasi tiga menit tersebut.
Integrasi Agama dalam Birokrasi Federal
Aksi itu bukan sekadar seremoni. Sejak kembali menjabat, pemerintahan Trump secara agresif mendorong kebangkitan agama di birokrasi federal. Pada Februari 2025, Trump mendirikan Kantor Keagamaan Gedung Putih disusul memo dari Kantor Manajemen Personalia pada Juli 2025 yang mengizinkan pegawai federal untuk mendorong rekan kerja mereka berpartisipasi dalam ekspresi keagamaan.
Laporan menunjukkan bahwa para pekerja federal kini sering menerima email berisi ajakan ibadah dan pesan-pesan keagamaan. Fenomena ini paling terlihat di Departemen Pertahanan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam kebaktian Maret lalu sempat melontarkan doa terkait konflik yang sedang berlangsung.
Reaksi Publik: Antara Kepemimpinan dan Aksi Politik
Langkah Trump membacakan kitab suci menuai reaksi polarisasi yang tajam. Para pendukungnya di media sosial memuji tindakan tersebut sebagai bentuk kepemimpinan yang berani dan pengingat akan identitas bangsa. Sebaliknya, para kritikus mengecamnya sebagai aksi politik yang mengeksploitasi agama demi kekuasaan.
Kontroversi Gambar AI
Sebelum aksi pembacaan ini, Trump sempat mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sebagai sosok Yesus yang sedang menyembuhkan orang sakit. Meski kemudian dihapus dengan alasan bahwa gambar tersebut dimaksudkan sebagai sosok dokter, insiden ini menambah panjang daftar kontroversi terkait penggunaan simbol agama oleh sang miliarder.
Di sisi lain, Paus Leo menegaskan posisinya untuk tidak akan tinggal diam. "Saya akan terus berbicara lantang menentang perang dan mempromosikan perdamaian," tegas Uskup Roma kelahiran AS pertama tersebut, menekankan bahwa ada cara yang lebih baik daripada kekerasan dalam menyelesaikan konflik global.
Acara Amerika Membaca Alkitab diikuti oleh lebih dari 500 peserta, termasuk tokoh-tokoh kunci Partai Republik seperti Senator Ted Cruz dan Joni Ernst, yang mempertegas arah kebijakan konservatif religius di bawah kepemimpinan Trump periode ini. (Independent/I-2)
