Pemimpin di Asia Sambut Baik Gencatan Senjata AS - Iran 

Ferdian Ananda Majni
08/4/2026 16:36
Pemimpin di Asia Sambut Baik Gencatan Senjata AS - Iran 
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim(Tobias SCHWARZ / AFP)

SEJUMLAH pemimpin di kawasan Asia menyambut positif pengumuman gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, mereka menekankan perlunya langkah lanjutan agar kesepakatan tersebut dapat berkembang menjadi solusi damai yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyebut kesepakatan tersebut sebagai perkembangan positif, merujuk pada rencana 10 poin yang diajukan Iran dan mendapat respons baik dari Washington. 

"Usulan ini merupakan pertanda baik bagi pemulihan perdamaian dan stabilitas, tidak hanya di kawasan ini tetapi juga di seluruh dunia," tulisnya di platform X.

Namun, Anwar mengingatkan bahwa upaya perdamaian tidak boleh terbatas pada Iran saja. Ia menilai stabilitas juga harus mencakup negara-negara seperti Irak, Libanon, dan Yaman, serta menyoroti pentingnya penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza. 

Ia juga memuji Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, atas diplomasi yang tak kenal lelah dan berani dalam memfasilitasi komunikasi antar pihak.

Di Jepang, Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai langkah positif, sembari menegaskan bahwa de-eskalasi tetap menjadi prioritas utama. 

Pemerintah di Tokyo juga berharap gencatan senjata sementara ini dapat berujung pada kesepakatan damai yang permanen.

Dukungan serupa datang dari Australia. Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan bahwa pemerintahnya sejak lama menyerukan penghentian konflik. 

"Pemerintah Australia telah menyerukan de-eskalasi dan pengakhiran konflik untuk beberapa waktu sekarang," ujarnya. 

Dia juga mengingatkan dampak luas konflik terhadap ekonomi global, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi. 

"Kami telah menjelaskan bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin signifikan dampaknya terhadap ekonomi global, dan semakin besar pula korban jiwa," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menyambut kesepakatan tersebut sebagai kabar yang menggembirakan, namun tetap mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih besar. 

"Meskipun ini adalah kabar yang menggembirakan, masih ada pekerjaan penting yang signifikan yang harus dilakukan dalam beberapa hari mendatang untuk mengamankan gencatan senjata yang permanen," ujarnya. Ia juga mengapresiasi peran negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir dalam upaya diplomasi.

Dari Korea Selatan, pemerintah menyatakan harapan agar kesepakatan ini membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

"Pemerintah kami menyambut baik kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk gencatan senjata ... dan landasan yang telah diletakkan untuk dimulainya kembali navigasi melalui Selat Hormuz," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Park Il.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa ia sepakat untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi. 

Sebelumnya, Washington juga memberi tekanan kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz demi menjaga pasokan energi global.

Selain pemerintah, tokoh regional seperti pemimpin Kashmir, Mirwaiz Umar Farooq, turut menyambut baik perkembangan tersebut. Ia menekankan pentingnya dialog dibandingkan konfrontasi. 

"Perdamaian mengalahkan perang," ujarnya dikutip Anadolu, Rabu (8/4). (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya