Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mencekam. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur krusial bagi 20% pasokan minyak dunia yang kini hampir lumpuh total akibat perang.
Melalui pernyataan daringnya, Trump menegaskan tidak akan segan menggunakan kekuatan militer penuh jika Iran mencoba menghentikan aliran minyak.
"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran Minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang pernah mereka rasakan selama ini," tegas Trump.
Tak berhenti di situ, Trump juga mengancam akan menghancurkan target-target strategis di Iran. "Kematian, Api, dan Amuk akan menghujani mereka — Namun saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak terjadi!" tambahnya.
Di tengah ancaman tersebut, negara-negara anggota G7 menyatakan kesiapan untuk mengambil "langkah-langkah yang diperlukan" guna menjaga stabilitas pasokan energi global. Meski pertemuan antara menteri keuangan G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) belum membuahkan kesepakatan untuk segera mencairkan cadangan minyak mentah strategis, opsi tersebut tetap terbuka lebar.
Direktur IEA, Fatih Birol, mencatat bahwa pasar minyak global telah memburuk secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. "Selain tantangan transit melalui Selat Hormuz, sejumlah besar produksi minyak telah terhenti. Ini menciptakan risiko yang besar dan terus berkembang bagi pasar," jelas Birol.
Saat ini, negara anggota IEA memegang lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, ditambah 600 juta barel stok industri. Jika cadangan ini dilepaskan, ini akan menjadi langkah darurat pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 25% hingga menyentuh US$119,50 per barel pada Senin pagi di Asia, sebelum kembali turun di bawah US$90 setelah Trump mengisyaratkan perang akan segera berakhir.
Di lapangan, situasi tetap panas. Sepanjang akhir pekan, AS dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru ke berbagai wilayah Iran, termasuk depot minyak. Sebaliknya, Iran menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk tetangga. Arab Saudi melaporkan telah mencegat dan menghancurkan dua gelombang pesawat nirawak (drone) yang mengarah ke ladang minyak utama mereka.
Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, mendesak dilakukannya deeskalasi segera di kawasan tersebut. "Saya siap mendukung pelepasan terkoordinasi dari cadangan minyak kolektif IEA," ujar Reeves.
Trump sendiri menganggap lonjakan harga minyak jangka pendek ini sebagai pengorbanan kecil demi keamanan global. "Harga minyak jangka pendek... adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi Keamanan dan Perdamaian AS serta Dunia. HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR SEBALIKNYA!" tulisnya di platform Truth Social. (BBC/Z-2)
Iran mengecam keras ancaman Presiden AS Donald Trump menyerang infrastruktur vital. Pernyataan tersebut berpotensi masuk kategori kejahatan perang menurut hukum internasional.
Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat 15 hari bagi Iran untuk kesepakatan nuklir. Ancaman langkah militer membayangi jika diplomasi di Jenewa gagal.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved