Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ENAM awak kapal asal Indonesia telantar di lepas pantai Cabo Verde, Afrika Barat, menghadapi nasib tragis dan pilihan pahit. Mereka terjebak dilema antara pulang tanpa upah setelah setahun bekerja atau bertahan di kapal yang terbengkalai demi menuntut hak upah mereka.
Salah satu dari mereka, Surono, 47, seorang teknisi mesin asal Tegal, Jawa Tengah, terbang ke Namibia pada Maret 2025 untuk bekerja di kapal Nuvo Ruivo, sebuah kapal penangkap tuna berbendera Portugal. Namun, saat kapal bersandar di Mindelo, Cabo Verde, pada September lalu untuk membongkar hasil tangkapan, pemilik kapal justru menghilang membawa paspor kru tanpa membayar gaji mereka.
"Keluarga saya menangis karena saya tidak punya uang. Anak dan istri saya butuh makan," ujar Surono seperti dilaporkan AFP saat dihubungi dari atas kapal yang bersandar di Porto Grande, Cabo Verde.
Surono mengatakan gajinya adalah US$1.200 per bulan dan terhitung dengan lima bulan terdampar di Porto Grande ia berhak menerima US$13.200 (sekitar Rp200 juta). Di Tegal, istrinya, Kiki Andriani, 38, harus berutang demi bertahan hidup. "Anak-anak malu ke sekolah karena menunggak biaya SPP," ungkap Kiki sambil terisak.
Rekor penelantaran pelaut
Data International Transport Workers' Federation (ITF) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, kasus penelantaran pelaut mencapai rekor tertinggi dengan sekitar 6.200 pelaut terdampar di 410 kapal di seluruh dunia.
Inspektur ITF, Gonzalo Galan, menyatakan telah menawarkan repatriasi (pemulangan) sejak hari pertama, namun para kru menolak karena khawatir upah mereka tidak akan pernah dibayarkan jika mereka meninggalkan kapal. "Langkah terakhir adalah mendapatkan perintah pengadilan untuk menyita dan menjual kapal tersebut guna melunasi utang pemiliknya," jelas Galan.
Dalih pemilik kapal
Pemilik kapal, Javier Martinez dari perusahaan Somar Produtos do Mar, berkilah bahwa kru kapal tidak ditelantarkan karena masih tersedia listrik dan air di atas kapal. Ia mengaku sedang mengalami kesulitan finansial namun tetap mengirimkan uang saku sebesar 50 euro secara berkala--jumlah yang menurut Surono hanya cukup untuk pulsa dan camilan.
Kondisi di atas kapal kian memprihatinkan. Enam warga Indonesia dan enam warga Angola yang menjadi kru kapal bertahan hidup dengan sisa stok beras dan makanan beku. Wahyudin, 36, pelaut asal Cirebon, turut merasakan kepedihan yang sama. Rencana pernikahannya kini terancam batal akibat upah yang tak kunjung cair.
Meski agen perekrutan di Indonesia sepakat untuk menalangi setengah dari gaji Surono pekan lalu, kepastian sisa upah lainnya masih gelap. Kasus ini menjadi potret buram lemahnya implementasi konvensi internasional dalam melindungi pekerja di sektor perikanan global. (SCMP/B-3)
Untuk perbaikan rutilahu tersebut,Pemkab Cirebon sudah mengalokasikan anggaran.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Cirebon terjadi Agustus–September 2026. Warga diimbau hemat air dan manfaatkan hujan yang masih turun.
Kelangkaan solar subsidi membuat kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan Cirebon tak melaut hampir sebulan, berdampak pada ratusan pekerja.
Total jumlah jemaah calon haji yang berangkat tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejak beroperasinya Waduk Jatigede, dampak penurunan debit air, khususnya di wilayah utara Kabupaten Cirebon dapat ditekan secara signifikan.
Es kopi yang menggunakan plastik dan sedotan dijual Rp6 ribu dari sebelumnya Rp5 ribu. Tapi karena pelanggan protes akhirnya kenaikan harga hanya berlaku sehari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved