Aksi Brutal Ekstremisme Lukai Masyarakat Dunia

Andhika Prasetyo
23/4/2015 00:00
Aksi Brutal Ekstremisme Lukai Masyarakat Dunia
(MI/Panca Syurkani)
DUNIA kini bersedih karena aksi ekstremisme yang terjadi di sejumlah negara. Persoalan menjadi tambah pelik dengan kekurangpedulian organisasi-organisasi internasional terhadap aksi ekstremisme brutal tersebut.

Dalam pidato pada Pertemuan Puncak para Pemimpin Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), kemarin, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan dunia sedang terluka karena aksi brutal yang dilakukan kelompok-kelompok ekstremisme yang berkembang di sejumlah negara.

''Kami percaya pertempuran melawan terorisme harus diletakkan dalam agenda konferensi tingkat tinggi ini karena merupakan hal yang sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dari Dasasila Bandung yang dideklarasikan 60 tahun yang lalu,'' kata Rouhani.

Presiden Iran itu menegaskan konsep dasar dalam pertempuran melawan terorisme bertujuan menghormati hak-hak untuk hidup. Karena itu, konsep dasar harus mencapai titik kehidupan setiap individu dari setiap etnik agama atau ras yang berbeda selayaknya diperlakukan setara.

''Kita harus mencapai titik bahwa tidak ada perbedaan di antara orang-orang yang beragama Islam, Kristen, Yahudi, atau Buddha. Tidak ada perbedaan antara bangsa Afrika, Asia, dan Eropa,'' imbuh Rouhani.

Presiden `Negeri para Mullah` itu menuturkan pengkhianatan terbesar terhadap agama-agama ialah penyalahgunakan atas agama untuk melakukan pembunuhan dan aksi terorisme.

''Oleh karena itu, sebuah aksi global harus dimulai dari para pemimpin dunia untuk bertarung melawan ideologi dan aksi tersebut,'' ujar Rouhani.

''Sekarang saatnya untuk memperkenalkan rencana Global Action Against Violence and Extremism (GAVE) dengan tujuan untuk mengalahkan terorisme dengan cara yang bijaksana, bukan dengan mengintensifkan melalui tindakan kekerasan yang tidak pantas seperti yang saat ini dilakukan negara-negara tertentu,'' tambahnya.

Rouhani juga mengkritik intervensi militer asing yang menciptakan bencana kemanusiaan di beberapa negara.

Namun, Presiden Iran itu tidak menyembut negara-negara yang melakukan intervensi yang dimaksud tersebut.

''Kondisi di Yaman dan Suriah ialah contoh yang jelas dari situasi ini. Sejarah telah menunjukkan bahwa intervensi militer bukanlah jawaban yang tepat terhadap krisis tersebut,'' tegasnya.

Harus kerja sama
Dalam sambutan pembukaan Peringatan 60 Tahun KAA, kemarin, Presiden RI Joko Widodo mengungkapkan hal senada. ''Kita harus bekerja sama menghadapi ancaman kekerasan, pertikaian, dan radikalisme seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kita harus melindungi hak-hak rakyat kita.''

Dalam pertemuan dengan delegasi dari 46 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), kemarin, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyerukan upaya untuk menghadapi terorisme dan radikalisme.

''Kita harus bekerja sama untuk mencapai tujuan yang baik dan yang terakhir adalah masalah konflik di negara-negara Islam,'' ucap Kalla.

JK, sapaan akrab Jusuf Kalla, mengatakan Indonesia dengan negara-negara OKI harus menyelesaikan permasalahan tersebut secara damai. ''Untuk merealisasikan hal tersebut, negara setuju untuk membentuk <>task force atau grup untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.''(I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya