Kecurangan UTBK 2026: Komisi X DPR Tekankan Pengawasan Berbasis AI

Putri Rosmalia Octaviyani
24/4/2026 15:30
Kecurangan UTBK 2026: Komisi X DPR Tekankan Pengawasan Berbasis AI
ANGGOTA Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah.(Dok. DPR)

ANGGOTA Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, memberikan respons tegas terkait temuan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026. Ia menekankan bahwa integritas peserta dan sistem pengawasan yang adaptif terhadap teknologi menjadi kunci fundamental dalam menjaga marwah pendidikan nasional.

Menurut Ledia, praktik kecurangan UTBK yang ditemukan di sejumlah lokasi ujian mencerminkan adanya persoalan mendasar pada niat dan integritas individu. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan yang diraih melalui jalan pintas yang tidak jujur tidak akan memberikan keberkahan ilmu di masa depan.

“Kalau memang niatnya sudah tidak benar, pasti akan jadi tidak benar dan ilmunya juga tidak berkah,” tegas Ledia saat memberikan keterangan dalam Kunjungan Kerja Komisi X di Kupang, NTT, Rabu (22/4/2026).

Antisipasi Modus Kecurangan UTBK Berbasis AI

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, Ledia menilai penyelenggara ujian harus selangkah lebih maju dalam mengantisipasi modus kecurangan UTBK. Salah satu tantangan nyata saat ini adalah penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dapat digunakan untuk memecahkan soal secara instan.

“Kita perlu mendorong supaya mereka mau melakukan pengawasan sejak awal dan juga harus diantisipasi karena dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, hanya sekadar difoto soal bisa dijawab oleh AI,” ujar Politisi Fraksi PKS tersebut.

Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa penggunaan teknologi untuk berbuat curang adalah tindakan sia-sia. “Tapi buat apa yang menjawab AI? Bukan AI yang mau kuliah, yang mau kuliah kan anaknya,” tambahnya.

Pendidikan Karakter: Solusi Jangka Panjang

Selain penguatan teknis di lapangan, Ledia menekankan bahwa solusi jangka panjang dari maraknya kecurangan UTBK adalah pembangunan karakter sejak dini. Peran keluarga dan sekolah sangat krusial dalam menanamkan nilai kejujuran agar siswa tidak terjebak dalam budaya instan demi gengsi semata.

“Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal, pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru, bahwa bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang,” jelasnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa secanggih apa pun sistem keamanan yang dibangun, benteng terkuat tetap berada pada integritas diri masing-masing peserta. Penyelenggara diharapkan terus mengevaluasi kebijakan keamanan agar seleksi masuk perguruan tinggi tetap berjalan jujur, adil, dan transparan. (dpr.go.id/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya