Wakil Rektor UNJ Sebut Kecurangan UTBK Libatkan Sindikat

Despian Nurhidayat
23/4/2026 18:44
Wakil Rektor UNJ Sebut Kecurangan UTBK Libatkan Sindikat
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Pramujati (tengah) meninjau pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Tower 1 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Rab(ANTARA FOTO/Moch Asim/kye)

WAKIL Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ifan Iskandar, memberikan contoh tindak kecurangan dalam pelaksanaan ujian tulis berbasis komputer atau UTBK selain perjokian, juga ada sindikat.

“Kita tidak bisa menyebutkan (siapa sindikat ini?) tetapi memang itu sindikat. Kenapa? Karena terorganisasi. UNJ menemukan itu tahun 2023-2024, itu mereka menempatkan komputer di mitra-mitra UNJ. Kan pelaksanaan UTBK di UNJ itu kan menggunakan mitra-mitra yang memiliki lab komputer. Nah ketika kami menemukan bahwa ada kloning soal di dalam layar monitor yang ditanam persis sebelum sesi itu dimulai, maka itu terbaca oleh sistem kami melalui Panitia Nasional,” ungkapnya, Kamis (23/4). 

“Kami telusuri ternyata di sekolah itu diletakkan satu komputer dan itu komputer itu aktif internetnya. Jadi pihak sekolah hanya perlu mengaktifkan internet di laptop itu, langsung terhubung ke kelompok yang akan mengatur dan memeriksa soal yang mana, peserta mana, dan memberikan jawaban,” lanjut Ifan. 

Lebih lanjut, ketika menemukan kecurangan UTBK tersebut, pihaknya pun langsung memutus kerja sama dengan mitra-mitra tersebut dan juga diberikan sanksi terhadap sekolah yang terlibat. 

“Kami sebagai pelaksana ketika menemukan itu ada di dua titik tahun 2023 atau 2024 itu, maka pertama mitra itu tidak digunakan lagi. Tim IT yang terlibat dalam menyediakan komputer itu, laptop itu, kemudian diberhentikan. Kepala sekolah mendapat teguran langsung dari kementerian,” jelasnya. 

Ifan juga secara terang-terangan mengatakan bahwa tim IT UNJ sempat diberi tawaran oleh para sindikat ini untuk melakukan tindak kecurangan, bahkan hingga Rp500 juta. 

“Nah untuk menunjukkan bahwa indikasi sindikat itu ada, karena tim IT kami sendiri ditawari mulai dari Rp50 (juta), Rp100 (juta), Rp200 (juta), Rp500 (juta) sampai kemudian diminta menuliskan sendiri berapa nominal yang diinginkan. Untungnya karena tim kami tim IT-nya sudah bertahun-tahun bersama kami dan punya integritas yang baik sehingga melaporkan itu. Jadi kita bisa bayangkan tidak mungkin personal bisa menawarkan harga sebuah kursi kelulusan itu senilai sampai Rp500 juta kan? Untuk Kedokteran. Nah itu kan berarti ada kelompok yang bermain secara tersistem,” tegas Ifan. 

Pada tahun ini, Ifan menekankan bahwa sistem deteksi dini kecurangan UTBK dari panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sudah sangat baik sehingga potensi kecurangan bisa dideteksi sebelum terjadinya kecurangan. 

“Alhamdulillahnya Panitia Nasional itu punya tim IT yang juga kuat ya sehingga mendeteksi. Maka yang dilakukan oleh sindikat ini perjokian. Jadi perjokian itu satu orang itu bisa dijokiin oleh lebih dari dua joki. Jadi saya misalnya mau ujian, saya sudah menyewa dua orang joki atas nama saya di dua lokasi yang berbeda. Nah itu kan berarti tetap ada upaya itu,” tuturnya.  (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya