Diplomasi Seni dan Budaya: Strategi Baru Memperluas Jaringan Bisnis Global

Basuki Eka Purnama
22/4/2026 16:03
Diplomasi Seni dan Budaya: Strategi Baru Memperluas Jaringan Bisnis Global
Art at WTC(MI/HO)

SENI dan budaya kini bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan instrumen strategis dalam membangun hubungan bisnis internasional dan membuka peluang perdagangan baru. Di Indonesia, integrasi antara nilai budaya dan ekosistem bisnis global mulai menjadi tren yang memperkuat konektivitas komunitas profesional lintas negara.

Langkah ini secara konsisten dijalankan oleh World Trade Center (WTC) Jakarta melalui program Art at WTC. Diluncurkan sejak 2013 oleh Jakarta Land, inisiatif jangka panjang ini menghadirkan berbagai pameran seni yang menampilkan karya seniman lokal maupun internasional di tengah kawasan bisnis.

Sandang Sanding Agraria: Jembatan Tradisi dan Modernitas

Salah satu implementasi nyata dari visi ini adalah pameran bertajuk “Sandang Sanding Agraria” yang berlangsung di lobi utama WTC 3 Jakarta. Pameran yang dikurasi oleh ISA Art & Design ini berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung dengan mengangkat kekayaan tekstil dari Tuban, Jawa Timur.

Melalui Tenun Gedog dan Batik Tuban, pameran ini merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan siklus pertanian. Managing Director WTC Jakarta, William Chai, menegaskan bahwa program ini bertujuan menciptakan lingkungan bisnis yang tidak hanya berfokus pada angka ekonomi, tetapi juga mendorong dialog lintas sektor.

“Pameran Sandang Sanding Agraria menjadi contoh bagaimana program budaya di kawasan perdagangan dapat menciptakan keterlibatan yang bermakna antara sistem wawasan lokal dengan audiens internasional,” ujar Chai.

Statistik Pameran & Ekonomi Kreatif Indonesia:
Indikator Data / Keterangan
Periode Pameran 29 September 2025 – 23 Januari 2026
Jumlah Pengunjung ± 17.000 orang (Domestik & Internasional)
Pertumbuhan Ekonomi Kreatif 5,69%
Nilai Ekspor Ekonomi Kreatif US$12,89 miliar

Potensi Global Seniman Indonesia

Keberhasilan integrasi seni dalam bisnis juga didorong oleh reputasi seniman Indonesia yang kian gemilang di pasar global. Nama-nama seperti I Nyoman Masriadi, yang mencatat sejarah di Sotheby’s Hong Kong, hingga Eko Nugroho yang menembus museum-museum bergengsi di Paris dan Tokyo, menjadi bukti bahwa karya seni Indonesia memiliki nilai tawar tinggi dalam diplomasi ekonomi.

Meningkatnya minat publik terhadap seni juga terlihat dari kesuksesan berbagai perhelatan internasional di tanah air, seperti ArtJog, Art Jakarta, Art Moment, dan Art Subs, yang kini menjadi magnet bagi kolektor dan pelaku bisnis dunia.

Menuju WTCA Global Business Forum 2026

Pendekatan berbasis budaya ini juga diadopsi secara global oleh World Trade Centers Association (WTCA). Setelah sukses menyelenggarakan forum di Marseille, Prancis, fokus kini tertuju pada 56th Annual WTCA Global Business Forum (GBF) yang akan digelar di Philadelphia, Amerika Serikat, pada 19–22 April 2026.

Dengan tema “Historic Foundations, Future Collaborations: Cultivating New Business Frontiers,” forum ini akan memanfaatkan kekuatan diaspora dan warisan budaya sebagai pintu masuk kolaborasi bisnis masa depan.

“Bisnis World Trade Center di seluruh dunia melihat bagaimana seni dan budaya dapat memperkaya bangunan mereka, aktivitas bisnis, serta konferensi yang mereka selenggarakan,” ungkap John E. Drew, Chair Board of Directors WTCA.

Bagi pelaku bisnis Indonesia, ajang WTCA GBF 2026 merupakan peluang strategis untuk menjalin kemitraan lintas negara, menarik investor global, sekaligus mempromosikan sektor ekonomi kreatif nasional di panggung internasional yang lebih luas. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya