Berkaca dari Kasus Amsal Sitepu: Industri Kreatif Indonesia Butuh Sistem, Bukan Sekadar Hobi

Basuki Eka Purnama
10/4/2026 09:01
Berkaca dari Kasus Amsal Sitepu: Industri Kreatif Indonesia Butuh Sistem, Bukan Sekadar Hobi
Videografer Amsal Sitepu (tengah)(ANTARA/Yudi Manar)

INDUSTRI kreatif Indonesia sering kali dipandang sebagai sektor yang penuh dengan talenta dan ide cemerlang. Namun, di balik gemerlap kreativitas tersebut, tersimpan tantangan besar yang menghambatnya menjadi pilar utama ekonomi nasional. Serial entrepreneur dan strategic architect, Renaldy Pujiansyah, menilai bahwa masalah mendasar industri ini terletak pada ketiadaan sistem yang kokoh.

Renaldy, yang memiliki pengalaman luas dalam membangun bisnis lintas sektor mulai dari media hingga distribusi digital, melihat bahwa potensi besar Indonesia belum terkonversi secara maksimal. Menurutnya, banyak pelaku industri yang masih berjalan tanpa struktur yang jelas, sehingga rentan terhadap berbagai kendala operasional maupun sosial.

Refleksi dari Polemik Publik

Fenomena kelemahan sistem ini, menurut Renaldy, kembali tercermin dalam berbagai kasus yang belakangan ramai diperbincangkan publik, termasuk yang melibatkan sosok Amsal Sitepu. Baginya, kasus-kasus semacam itu bukan sekadar persoalan individu, melainkan alarm bagi ekosistem industri kreatif secara keseluruhan.

“Masalahnya bukan di orangnya, tapi di sistem yang belum terbentuk. Setiap kali ada kasus, publik fokus ke siapa yang salah. Padahal kalau dilihat lebih dalam, ini masalah sistem yang belum matang,” tegas pria yang akrab disapa Renald ini dalam sebuah diskusi baru-baru ini.

MI/HO--Serial entrepreneur dan strategic architect, Renaldy Pujiansyah

Ia mengidentifikasi tiga risiko utama yang menghantui pelaku industri kreatif akibat ketiadaan struktur yang jelas:

Risiko Tanpa Sistem Dampak pada Industri
Miskomunikasi Ketidakjelasan alur kerja dan koordinasi antar pihak.
Konflik Kepentingan Tumpang tindih peran yang memicu sengketa internal.
Kesalahan Ekspektasi Kegagalan dalam mengelola persepsi dan dampak di mata publik.

Kreativitas Bukan Sekadar Ekspresi

Renaldy menekankan adanya kesalahan fundamental dalam memposisikan industri kreatif. Selama ini, kreativitas masih sering diperlakukan sebatas ekspresi atau hobi, bukan sebagai sebuah sistem industri yang profesional. Akibatnya, karya sering kali tidak terdistribusi maksimal, narasi tidak konsisten, dan monetisasi tidak berkelanjutan.

“Kreativitas itu tidak punya ceiling (langit-langit). Yang membatasi bukan idenya, tapi bagaimana kita mengelolanya,” ujarnya. Ia membandingkan dengan industri komoditas yang memiliki harga relatif tetap namun mampu menopang ekonomi. Menurutnya, industri kreatif yang nilainya tidak terbatas seharusnya memiliki potensi jauh lebih besar jika didukung sistem distribusi dan monetisasi yang tepat.

Menuju Ekspor Kreatif Global

Ke depan, Renaldy melihat peluang besar bagi Indonesia untuk masuk ke fase ekspor kreatif. Dalam fase ini, Indonesia tidak hanya mengirimkan barang fisik ke pasar global, tetapi juga ide, konten, dan nilai budaya yang dikemas secara strategis.

Untuk mencapai visi tersebut, ia merumuskan tiga pilar utama yang harus dibenahi:

  • Pendekatan Bisnis Serius: Mengubah pola pikir dari sekadar "pelengkap" menjadi sektor utama.
  • Sistem Distribusi Kuat: Memastikan karya menjangkau audiens yang tepat secara efisien.
  • Daya Saing Global: Menyiapkan standar kualitas yang mampu bertarung di arena internasional.

“Ini bukan lagi soal lokal atau nasional. Industri kreatif akan menjadi arena persaingan global, dan Indonesia punya semua modal untuk ikut bermain di level itu,” pungkas Renaldy.

Baginya, masa depan industri kreatif Indonesia tidak lagi ditentukan oleh seberapa kreatif ide yang dimiliki, melainkan oleh seberapa serius industri ini dikelola secara sistematis. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya