Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERHATI sosial dan budaya, Agus Widjajanto mengungkap nenek moyang telah meninggalkan warisan luhur yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, berupa ajaran dan laku luhur sesuai karakter bangsa ketimuran yang beradab. Salah satunya, yakni ajaran luhur yang diajarkan lewat pitutur lisan atau dikenal dengan Luhur Sastro Jendro Hayuningrat.
"Sastro Jendro Hayuningrat itu kitab strateginya, atau buku manual para raja Jawa untuk memenangkan perang pikiran, jauh sebelum The Art of War diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia," kata Agus, dalam keterangan resminya, Kamis (23/4).
Secara harfiah, sastro merupakan ilmu atau tulisan, jendro adalah raja agung, hayu adalah keselamatan atau keindahan, dan ningrat adalah dunia. Jadi, kesimpulannya ajaran itu, yakni Ilmu Raja Agung untuk Keselamatan Dunia.
Dikatakan Agus, ajaran tersebut bukan kitab fisik, tetapi ilmu laku. Tidak ada naskah tunggal seperti Negarakertagama. Sastro Jendro adalah ajaran lisan dan olah batin tingkat tinggi di kalangan raja, resi, dan kesatria Jawa. Diwariskan lewat laku, bukan lewat teks. Ilmunya dijaga dan hanya diberikan kepada yang siap.
"Isi pokok ialah cara membaca tanda zaman, watak manusia, dan gelombang kekuasaan. Tujuannya agar pemimpin mampu membuat rakyat ayem, negara hayu, dan musuh tunduk tanpa perang," ucap Agus.
Fungsinya sebagai media pengajaran kepemimpinan dan kritik sosial, yakni pada aspek kepemimpinan adalah pemimpin harus weruh sakdurunge winarah, yaitu tahu sebelum kejadian. Tidak reaktif, tetapi mampu membaca pola. Sultan Agung tidak langsung menyerang VOC. Sultan Agung mengirim telik sandi dan mempelajari kompeni selama bertahun-tahun sebelum menyerang Batavia pada 1628.
"Relevansi saat ini, pemimpin tidak boleh reaktif terhadap arus informasi. Ia harus mampu membaca apakah suatu isu nyata atau sekadar opini yang digerakkan," kata Agus.
Secacra aspek kritik sosial, yakni menggunakan semu, sanepan, dan kiasan seperti wayang, serat, dan tembang. Kritik disampaikan secara halus, tetapi tajam. Serat Kalatidha karya Ranggawarsita menggambarkan “zaman edan” untuk menyindir kondisi sosial tanpa konfrontasi langsung.
Dari aspek perang pikiran, yakni menang tanpa merendahkan. Menaklukkan hati, bukan benteng. Agus mengatakan R.M. Sosrokartono tidak berkonfrontasi keras, tetapi membangun pemikiran yang kemudian memengaruhi Soekarno hingga gagasannya berdampak besar pada dunia internasional.
Agus lantas menuturkan alasan ajaran itu menjadi pegangan kesatria dan Raja Jawa. Karena perang di Jawa lebih banyak merupakan perang batin. Raja yang hanya mengandalkan kekuatan fisik akan mudah runtuh. Sebaliknya, yang hanya mengandalkan kecerdasan tanpa karakter juga mudah goyah. Sastro Jendro mengajarkan keseimbangan digdaya tanpa aji, yaitu kekuatan yang lahir dari pemahaman rasa, ketelitian, dan pengetahuan mendalam.
Pengaruh ini terlihat pada kepemimpinan Soekarno yang mampu memengaruhi dunia melalui gagasan dan wibawa, bukan semata kekuatan material.
"Kita juga melihat bagaimana Soeharto dikenal stabil dan berwibawa dalam memimpin. Hal ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman terhadap ajaran luhur raja-raja Jawa, yang menekankan keseimbangan antara kekuatan, ketenangan, dan pengendalian diri dalam menjalankan kekuasaan," ucapnya.
Kemudian, Agus mengaitkan hubungannya dengan Kartini, Sosrokartono, dan aktivisme. Dikatakan, Sosrokartono dapat disebut sebagai representasi modern dari penguasaan nilai-nilai ini. Sosrokartono memadukan pendidikan Barat dengan kebijaksanaan lokal.
Kartini memperoleh pengaruh pemikiran yang membentuk pandangannya. Gagasannya tentang pendidikan perempuan merupakan strategi sosial untuk kemajuan bangsa.
"Dalam konteks kekinian, tugas kita bukan lagi seperti angkatan 45 yang memanggul senjata dalam perang fisik melawan kolonialisme. Zaman telah berubah. Perjuangan hari ini adalah melalui tulisan, media, dan pencerahan untuk melawan bentuk kolonialisme baru, termasuk dominasi pemikiran, pengaruh asing, serta sifat angkara murka yang merusak kehidupan bangsa," tutur Agus.
Agus menegaskan perang hari ini adalah perang gagasan dan kesadaran. Oleh karena itu, tulisan, pemikiran, dan narasi menjadi alat utama untuk membangun kemandirian bangsa dan memperkuat karakter masyarakat.
"Sastro Jendro dapat menjadi fondasi pembentukan ketahanan karakter bangsa" kata Agus.
Pertama, kemampuan membaca pola dan memahami realitas secara utuh. Kedua, kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara yang bijak dan tidak merusak. Ketiga, orientasi pada kemaslahatan bersama sebagai tujuan utama.
"Jika nilai-nilai ini diterapkan, maka masyarakat akan memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman," ucapnya.
Menurut Agus, bangsa yang mengalami degradasi moral membutuhkan perbaikan dari dalam. Proses ini dimulai dari individu, baik pemimpin maupun rakyat. Pencucian diri menjadi langkah penting untuk mengembalikan kejernihan hati dan pikiran dari pengaruh keserakahan, korupsi, dan sifat angkara murka yang berkembang secara masif.
Kesadaran untuk memperbaiki diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menjunjung tinggi nilai kejujuran menjadi kunci utama dalam membangun kembali kekuatan bangsa.
"Ajaran ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang tidak banyak dipahami. Namun, justru karena itu, generasi muda perlu mengenalnya sebagai bagian dari warisan budaya," kata Agus.
Dalam tradisi kerajaan, Agus mengatakan pemimpin disebut sebagai titisan dewa, bukan dalam arti harfiah, melainkan karena kemampuannya menjalankan nilai-nilai luhur yang selaras dengan keseimbangan alam atau memayu hayuning bawono.
Tokoh seperti Sultan Agung menjadi contoh pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
"Sastro Jendro Hayuningrat adalah sistem nilai yang membentuk karakter kepemimpinan dan kehidupan bangsa. Ia menekankan keseimbangan antara pikiran, rasa, dan tindakan," ujar Agus.
Sebagai intisari ajaran kepemimpinan dalam Sastro Jendro Hayuningrat, Agus mengungkap terdapat empat laku utama yang sering disebut sebagai Wulang Reh atau ajaran diri. Keempatnya menjadi fondasi pembentukan karakter pemimpin yang utuh.
Den Ajembar, yaitu seorang pemimpin harus memiliki keluasan hati dan pikiran. Den Momot, yaitu kemampuan menampung dan mendengarkan aspirasi dari bawah, dari rakyat.
Lawan Den Wengku, yaitu kemampuan untuk melawan dan mengendalikan ego serta ambisi pribadi. Den Koyo Segoro, yaitu mencapai keluasan jiwa dan kedalaman pandangan seperti samudra.
Keempat ajaran ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tentang pembentukan diri. Ketika seorang pemimpin mampu menjalankan ajaran tersebut, maka ia tidak hanya kuat secara lahiriah, tetapi juga kokoh secara batiniah.
"Dengan demikian, cita-cita kehidupan bangsa yang tenteram, sejahtera, dan berkeadilan bukanlah sekadar harapan, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai luhur," demikian Agus yang juga praktisi hukum. (H-3)
Gali kearifan lokal Jawa! Temukan pitutur luhur, nasihat bijak, dan filosofi mendalam yang relevan sepanjang masa. Pelajari budaya Jawa lebih dalam!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved