Hubungan Stres dan Jerawat pada Remaja

M Iqbal Al Machmudi
19/4/2026 12:28
Hubungan Stres dan Jerawat pada Remaja
Ilustrasi(freepik)

JERAWAT merupakan masalah kulit umum bagi orang-orang dari semua kelompok usia. Sementara orang dewasa belajar mengatasi jerawat secara bertahap, kondisi kulit ini cenderung memengaruhi remaja dalam lebih dari satu cara. 

“Remaja biasanya menganggap jerawat hanyalah 'masalah kulit'. Tetapi beban emosionalnya diam-diam menjadi jauh lebih berat,” kata Dermatolog Dr. Akriti Gupta dikutip dari Hindustan Times, Minggu (19/4).

Gupta menjelaskan jerawat menyerang pada fase paling rentan dalam hal harga diri.

"Jerawat muncul pada tahun-tahun ketika remaja sedang membentuk identitas, kepercayaan diri, dan kedudukan sosial mereka. Dan seringkali, munculnya jerawat dapat membuat mereka menarik diri dari aktivitas atau menghindari kontak mata," ujar dia. 

Ia mengatakan biasanya melihat remaja bolos sekolah atau acara sosial pada hari-hari ketika jerawat baru muncul.

Dampak emosionalnya biasanya muncul secara halus pada remaja seperti perubahan suasana hati, mudah tersinggung, kehilangan minat pada hobi, atau obsesi mendadak terhadap filter. 

"Orangtua mungkin menganggap ini sebagai perilaku remaja yang normal, tetapi tanda-tanda ini perlu diperhatikan. Ketika seorang remaja mulai menghabiskan satu jam di depan cermin menganalisis setiap pori-pori, itu jarang tentang kesombongan. Biasanya itu adalah kecemasan," ungkap Gupta.

Menurutnya terdapat hubungan dua arah antara jerawat dan depresi. Jerawat dapat memicu depresi, dan depresi dapat memperburuk jerawat melalui perubahan hormonal, kurang tidur, dan peradangan akibat stres. 

"Ini menciptakan lingkaran setan, semakin banyak stres menyebabkan semakin banyak jerawat, dan semakin banyak jerawat memperdalam stres,” tukasnya. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya