Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah keputusan yang diprediksi akan mengubah lanskap industri teknologi, juri di California menyatakan Meta dan YouTube bersalah atas tuntutan hukum yang diajukan seorang perempuan muda. Raksasa teknologi ini dinilai lalai dan sengaja merancang platform yang memicu kecanduan serta merusak kesehatan mental pengguna di bawah umur.
Kasus ini dipicu gugatan Kaley, 20, yang mengaku terjebak dalam kecanduan sejak masa kanak-kanak hingga menderita gangguan kecemasan, dismorfia tubuh, hingga pemikiran untuk mengakhiri hidup. Setelah persidangan selama tujuh minggu, juri memerintahkan perusahaan untuk membayar ganti rugi total sebesar US$3 juta (sekitar Rp47 miliar).
Juri menetapkan Meta memikul 70% tanggung jawab atas kerugian yang dialami Kaley, sementara YouTube menanggung 30% sisanya. Selain ganti rugi kompensasi, juri merekomendasikan denda tambahan (punitive damages) sebesar US$2,1 juta untuk Meta dan US$900.000 untuk YouTube.
Menanggapi putusan tersebut, kedua perusahaan menyatakan akan mengajukan banding. "Kami dengan hormat tidak setuju dengan putusan ini dan akan mengajukan banding. Kesehatan mental remaja sangatlah kompleks dan tidak dapat dikaitkan dengan satu aplikasi saja," ujar juru bicara Meta.
Sementara itu, juru bicara Google, José Castañeda, menyatakan kasus ini salah memahami sifat dasar platform mereka. "Kasus ini salah memahami YouTube, yang merupakan platform streaming yang dibangun secara bertanggung jawab, bukan situs media sosial."
Kemenangan Kaley dianggap sebagai momen bersejarah yang mirip dengan kekalahan industri tembakau (Big Tobacco) di masa lalu. James Steyer, CEO Common Sense Media, memberikan kritik tajam terhadap praktik perusahaan teknologi.
"Raksasa media sosial tidak akan pernah menghadapi persidangan jika mereka memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas keterlibatan pengguna (engagement). Sebaliknya, mereka mengubur penelitian mereka sendiri yang menunjukkan anak-anak dirugikan, dan menggunakan anak-anak serta masyarakat sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen besar yang tidak terkendali dan sangat menguntungkan."
Persidangan ini mengungkap dokumen internal yang menunjukkan Meta tetap mengizinkan penggunaan "filter kecantikan" yang memanipulasi penampilan fisik, meskipun para ahli dan karyawan sendiri telah memperingatkan bahayanya.
Meski CEO Meta Mark Zuckerberg dan bos Instagram Adam Mosseri sempat memberikan kesaksian yang membantah sifat adiktif platform mereka, juri tetap memutus mereka bersalah. Keputusan ini menjadi pembuka jalan bagi lebih dari 1.500 gugatan serupa yang sedang menanti di pengadilan Amerika Serikat, yang berpotensi merugikan perusahaan hingga miliaran dolar.(CNN/Z-2)
Fitur "Tanya YouTube" adalah langkah besar Google dalam membawa AI generatif ke ranah konsumsi video. Dengan kemampuan untuk merangkum dan menjawab pertanyaan secara real-time
Menkomdigi Meutya Hafid sebut Roblox belum sepenuhnya patuhi PP Tunas meski sudah rilis fitur Roblox Kids. YouTube resmi bergabung patuhi aturan
YouTube resmi memblokir saluran Explosive Media asal Iran yang viral karena video animasi Lego AI penyindir Donald Trump.
Menkomdigi Meutya Hafid tegur Roblox dan YouTube karena belum patuhi PP Tunas terkait perlindungan anak di bawah 16 tahun. YouTube baru disanksi teguran tertulis.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
SEBUAH video animasi lebaran bertajuk Tukar Rasa menjadi persembahan hiburan untuk masyarakat Indonesia yang meramaikan tradisi mudik ke kampung halaman.
Putusan pengadilan AS terhadap Meta dan Google soal dampak mental media sosial bikin resah? Simak tips psikolog untuk kurangi ketergantungan anak pada ponsel.
Juri Los Angeles memenangkan gugatan wanita muda atas kecanduan media sosial. Meta dan Google dianggap sengaja membangun platform yang merusak mental anak.
Sidang perdana kasus kecanduan media sosial dimulai di California. Meta dan YouTube dituduh sengaja merancang platform yang merusak otak anak.
Penelitian menunjukkan remaja kini jauh lebih sedikit mengonsumsi alkohol dan rokok dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, para ahli memperingatkan risiko dari dunia digital.
Larangan yang akan berlaku mulai Maret tahun depan itu menjadikan Korea Selatan negara terbaru yang membatasi penggunaan ponsel pintar dan media sosial di kalangan anak di bawah umur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved