Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan gejala depresi dan kecemasan pada remaja 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Temuan tersebut berasal dari data program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain itu, berdasarkan data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
"Artinya di antara kita mungkin ada teman yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Masa kesehatan mental ini seperti kita sering sebut sebagai luka psikologis, luka yang tidak terlihat, tidak berdarah, takut bisa terasa berat, dan kalau tidak ditangani ia dapat mempengaruhi belajar, pergaulan, bahkan masa depannya," kata Dante di Jakarta, Kamis (23/4).
Oleh karena itu, ia menekankan perlu keterampilan dan pertolongan pertama pada luka psikologis terutama pada remaja.
"Kita mengevaluasi dari CKG bahwa anak-anak mengalami kelainan psikologis 5 kali lebih besar daripada usia dewasa dan studi yang sudah kita lakukan, 3 dari 5 anak-anak yang ada mengalami masalah mental. Hanya saja masalah mentalnya tidak keluar dan hanya biasa diam serta mengurung diri," ungkap dia.
Kemudian terkadang anak tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Sehingga perlu membangun penguatan di lingkungan sekitar seperti teman, guru BK, hingga kepala sekolah. Mereka akan menjadi pendamping dan teman untuk yang mempunyai masalah psikologis.
Peran teman sangat penting untuk menerima cerita dan teman curhat itu perlu memberikan saran yang tepat. Oleh karena itu Kemenkes menerbitkan buku berjudul Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis untuk membantu teman curhat memberikan saran kepada remaja yang mengalami depresi.
Dengan panduan buku tersebut, Dante berharap para siswa dan perangkat sekolah akan dibimbing melakukan pendampingan buat teman-temannya yang mengalami luka psikologis seperti stres karena pelajaran, permainan, bullying, dan sebagainya.
"Sehingga masalah-masalah seperti itu harapannya bisa menjadi tanggung jawab bersama milik masyarakat dan menjadi kepedulian yang lebih dalam buat anak-anak supaya bisa mengalami situasi lingkungan teman-temannya yang mengalami luka psikologis," tukasnya. (H-2)
Sebuah studi terhadap 583 remaja di Nepal menemukan hubungan kuat antara pola asuh orangtua dan kondisi mental remaja. Peneliti menyoroti pentingnya lingkungan rumah yang suportif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved