Gejala Depresi pada Remaja 5 Kali lebih Tinggi Dibanding Orang Dewasa

M Iqbal Al Machmudi
25/4/2026 15:37
Gejala Depresi pada Remaja 5 Kali lebih Tinggi Dibanding Orang Dewasa
Ilustrasi(Freepik.com)

WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan gejala depresi dan kecemasan pada remaja 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Temuan tersebut berasal dari data program  Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Selain itu, berdasarkan data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

"Artinya di antara kita mungkin ada teman yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Masa kesehatan mental ini seperti kita sering sebut sebagai luka psikologis, luka yang tidak terlihat, tidak berdarah, takut bisa terasa berat, dan kalau tidak ditangani ia dapat mempengaruhi belajar, pergaulan, bahkan masa depannya," kata Dante di Jakarta, Kamis (23/4).

Oleh karena itu, ia menekankan perlu keterampilan dan pertolongan pertama pada luka psikologis terutama pada remaja.

"Kita mengevaluasi dari CKG bahwa anak-anak  mengalami kelainan psikologis 5 kali lebih besar daripada usia dewasa dan studi yang sudah kita lakukan, 3 dari 5 anak-anak yang ada mengalami masalah mental. Hanya saja masalah mentalnya tidak keluar dan hanya biasa diam serta mengurung diri," ungkap dia.

Kemudian terkadang anak tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Sehingga perlu membangun penguatan di lingkungan sekitar seperti teman, guru BK, hingga kepala sekolah. Mereka akan menjadi pendamping dan teman untuk yang mempunyai masalah psikologis.

Peran teman sangat penting untuk menerima cerita dan teman curhat itu perlu memberikan saran yang tepat. Oleh karena itu Kemenkes menerbitkan buku berjudul Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis untuk membantu teman curhat memberikan saran kepada remaja yang mengalami depresi.

Dengan panduan buku tersebut, Dante berharap para siswa dan perangkat sekolah akan dibimbing melakukan pendampingan buat teman-temannya yang mengalami luka psikologis seperti stres karena pelajaran, permainan, bullying, dan sebagainya. 

"Sehingga masalah-masalah seperti itu harapannya bisa menjadi tanggung jawab bersama milik masyarakat dan menjadi kepedulian yang lebih dalam buat anak-anak supaya bisa mengalami situasi lingkungan teman-temannya yang mengalami luka psikologis," tukasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya