Banyak Makan Nasi, Tapi Minim Diabetes, Apa yang Dilakukan Orang Jepang Berbeda?

Intan Safitri
14/4/2026 11:56
Banyak Makan Nasi, Tapi Minim Diabetes, Apa yang Dilakukan Orang Jepang Berbeda?
Ilustrasi(freepik)

BANYAK orang menganggap nasi putih sebagai penyebab utama lonjakan gula darah. Namun di Jepang, konsumsi nasi tetap tinggi, sementara angka diabetes relatif lebih terkendali dibanding banyak negara lain. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil kombinasi pola makan dan gaya hidup yang konsisten.

Penelitian dari Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menunjukkan kunci utamanya bukan pada jenis makanan tunggal, tetapi pada keseluruhan pola konsumsi. Orang Jepang mengonsumsi nasi sebagai sumber energi utama, tetapi tidak membebani tubuh dengan lemak berlebih, gula tambahan, atau makanan ultra-proses. Total kalori harian mereka cenderung lebih rendah dan lebih terkontrol.

Obesitas rendah, risiko ikut turun

Faktor paling menentukan adalah tingkat obesitas. Jepang memiliki salah satu angka obesitas terendah di dunia. Karena kelebihan berat badan berkaitan langsung dengan resistensi insulin, kondisi yang menjadi pintu masuk diabetes tipe 2.

Dengan berat badan yang relatif stabil, tubuh lebih efisien dalam mengelola gula darah. Artinya, meskipun konsumsi karbohidrat tinggi, dampaknya tidak seburuk pada populasi dengan tingkat obesitas lebih tinggi.

Pola makan seimbang, bukan sekadar nasi

Dalam praktiknya, nasi jarang dimakan sendirian. Menu harian di Jepang biasanya terdiri dari ikan, sayuran, rumput laut, dan produk kedelai seperti tofu dan miso. Kombinasi ini penting karena serat dari sayur dapat memperlambat penyerapan gula, protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan lemak sehat dari ikan mendukung metabolisme.

Pendekatan ini membuat lonjakan gula darah lebih stabil, meski sumber karbohidrat utamanya tetap nasi putih.

Porsi kecil dan kebiasaan makan yang disiplin

Budaya makan juga berperan besar. Orang Jepang terbiasa dengan porsi kecil dan makan secara perlahan. Mereka jarang makan berlebihan. Kebiasaan ini membantu tubuh mengatur kadar gula darah tanpa lonjakan drastis.

Selain itu, aktivitas fisik menjadi bagian dari rutinitas harian. Jalan kaki, naik transportasi umum, dan mobilitas tinggi menjaga tubuh tetap aktif tanpa perlu olahraga berat.

Tetap ada risiko, bukan tanpa batas

Meski terlihat aman, nasi putih tetap memiliki indeks glikemik tinggi. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan konsumsi berlebihan tetap bisa meningkatkan risiko diabetes, terutama jika tidak diimbangi pola hidup sehat.

Jepang menunjukkan bahwa karbohidrat tinggi tidak otomatis berbahaya, selama dikontrol dengan pola makan seimbang, porsi terjaga, dan gaya hidup aktif.

Pendekatan ini memberi satu pesan sederhana: mengubah cara makan jauh lebih penting daripada sekadar menghindari satu jenis makanan. (PMC/Pubmed/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya