Kontroversi Tylenol dan Autisme: Guncangan Politik Trump yang Meresahkan Dunia Medis

Thalatie K Yani
07/4/2026 06:25
Kontroversi Tylenol dan Autisme: Guncangan Politik Trump yang Meresahkan Dunia Medis
Ilustrasi(freepik)

ENAM bulan setelah Presiden Donald Trump mengejutkan komunitas medis dengan menyatakan ibu hamil sebaiknya menghindari Tylenol karena "terkait dengan risiko autisme yang sangat meningkat," dampaknya masih terasa di seluruh Amerika Serikat.

Laporan terbaru dari jurnal medis The Lancet mengungkapkan penurunan signifikan penggunaan acetaminophen (nama generik Tylenol) di ruang gawat darurat sejak pengumuman Gedung Putih tersebut. Fenomena ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pakar kesehatan mengenai penyebaran informasi yang tidak akurat.

Gugatan Hukum dan Bantahan Medis

Gelombang pro-kontra ini merambah hingga ke meja hijau. Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, resmi menggugat produsen Tylenol, Kenvue dan Johnson & Johnson. Paxton menuduh perusahaan tersebut melakukan pemasaran yang menipu dan gagal mengungkapkan risiko gangguan saraf pada janin.

Namun, pihak Kenvue menegaskan bahwa "sains yang independen dan kuat" menunjukkan acetaminophen tidak menyebabkan autisme. Asosiasi medis besar, termasuk American College of Obstetricians and Gynecologists, tetap merekomendasikan obat ini sebagai pereda nyeri paling aman bagi ibu hamil.

"Penyebaran informasi palsu [telah memberikan] dampak yang signifikan," ujar Dr. Helen Tager-Flusberg, direktur Center for Autism Research Excellence di Boston University.

Ilmuwan di Balik Layar

Menariknya, Dr. William Parker, ahli biokimia yang teorinya menjadi dasar kebijakan anti-Tylenol pemerintahan Trump, justru memberikan pernyataan yang kontradiktif. Meskipun ia memiliki hubungan dekat dengan Sekretaris Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., Parker mengaku kaitan antara penggunaan Tylenol saat hamil dengan autisme hanya didukung oleh "data yang sangat lemah."

Parker justru berpendapat risiko lebih besar ada pada pemberian obat kepada bayi baru lahir, sebuah klaim yang juga dibantah oleh peneliti arus utama. Para ilmuwan yang datanya dikutip Parker bahkan menuduh sang biokimiawan telah salah menafsirkan hasil penelitian mereka.

Pergeseran Dana Riset dan Politik

Kebijakan ini tidak hanya memengaruhi konsumsi obat, tetapi juga arah pendanaan riset federal. Pemerintahan Trump mengalokasikan US$50 juta untuk meneliti penyebab autisme, namun di sisi lain melakukan pemotongan anggaran riset ilmiah secara keseluruhan.

Robert F. Kennedy Jr. baru-baru ini membubarkan panel ahli autisme pemerintah dan menggantinya dengan anggota baru yang mendukung teori-teori kontroversial. Sebagai tandingan, para peneliti independen membentuk Independent Autism Coordinating Committee untuk menjaga integritas sains dari intervensi politik.

Kini, dunia medis berada di persimpangan jalan: antara mengikuti arahan politik yang provokatif atau berpegang pada bukti klinis yang selama puluhan tahun menyatakan Tylenol aman bagi jutaan ibu di seluruh dunia. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya