Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang jatuh pada 2 April menjadi momentum krusial untuk menyoroti berbagai tantangan besar dalam penanganan autisme di Indonesia. Salah satu persoalan fundamental yang hingga kini belum terpecahkan adalah ketiadaan data nasional yang akurat dan terintegrasi.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rozana Ika Agustiya, mengungkapkan bahwa angka prevalensi autisme di Indonesia saat ini masih sebatas estimasi. Belum ada survei nasional komprehensif yang mampu memetakan kondisi riil di lapangan.
“Jika kita mengetahui jumlah dan distribusinya secara pasti, kita dapat merencanakan kebutuhan layanan, tenaga ahli, hingga alokasi anggaran dengan tepat. Tanpa data yang solid, kebijakan yang diambil berisiko tidak tepat sasaran,” ujar Ika dalam keterangan resminya, Rabu (1/4).
Minimnya data nasional berbanding lurus dengan hambatan di lapangan. Ika mengidentifikasi beberapa kendala utama yang masih dihadapi keluarga dengan anak autisme, di antaranya:
Kondisi ini memberikan beban ganda bagi keluarga, baik dari sisi waktu maupun ekonomi. Meski sebagian layanan telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, biaya operasional seperti transportasi dan pendampingan khusus tetap menjadi tanggungan mandiri yang memberatkan.
BRIN mendorong adanya pergeseran paradigma dalam penanganan autisme dengan mengedepankan model intervensi berbasis lokal. Menurut Ika, pendekatan dari negara maju tidak bisa diadopsi mentah-mentah tanpa penyesuaian dengan konteks budaya dan keterbatasan tenaga profesional di Indonesia.
“Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi seperti aplikasi deteksi dini, merupakan solusi relevan untuk memperluas jangkauan layanan di tanah air,” jelasnya.
Penanganan autisme tidak hanya bertumpu pada medis. Mengingat sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah, orang tua memegang peran vital sebagai ko-terapis bagi perkembangan buah hati mereka.
Selain kendala teknis dan medis, stigma sosial masih menjadi tembok besar. Anak dengan autisme sering kali dicap sebagai anak nakal, sementara orang tua dianggap gagal dalam mengasuh. Tekanan sosial ini kerap membuat keluarga menarik diri dari lingkungan.
Ika menegaskan bahwa tujuan intervensi bukanlah untuk "menyembuhkan" atau menyeragamkan anak, melainkan membantu mereka mencapai potensi terbaiknya. “Anak dengan autisme bukan anak yang kurang, mereka hanya berkembang dengan cara yang berbeda. Setiap anak memiliki potensi unik yang perlu dikenali dan dikembangkan,” pungkasnya.
Melalui integrasi data lintas sektor—mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial—pemerintah diharapkan dapat menyusun kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan demi masa depan anak-anak spektrum autisme di Indonesia. (H-3)
Farhan mengaku Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung masih menghadapi tantangan dalam pendataan jumlah individu dengan autisme.
Pernyataan Donald Trump soal kaitan Tylenol (acetaminophen) dengan autisme memicu kekacauan medis. Dari gugatan hukum hingga perpecahan di kalangan ilmuwan, inilah fakta di baliknya.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi mengatakan di Indonesia, estimasi menyebutkan ada sekitar 2,4 juta anak dengan spektrum autisme.
Suga BTS ikut menulis buku terapi autisme berbasis musik bersama peneliti Severance Hospital. Ia juga terlibat langsung dalam programnya.
Kabar baik bagi ibu hamil! Tinjauan ilmiah terbaru dari The Lancet menegaskan paracetamol aman dan tidak terbukti meningkatkan risiko autisme atau ADHD pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved