Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP individu memiliki mekanisme yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Psikolog anak dan keluarga lulusan Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, P.Si, menjelaskan bahwa ekspresi kedukaan, baik melalui pertemuan tatap muka maupun unggahan di media sosial, merupakan pilihan personal yang sangat bergantung pada kenyamanan masing-masing orang.
Sani menilai bahwa cara seseorang mengekspresikan kesedihannya berkaitan erat dengan apa yang dirasa paling menguatkan bagi dirinya sendiri.
Ada orang yang merasa lebih tenang dengan menemui keluarga mendiang secara langsung, namun ada pula yang memilih membagikan rasa kehilangannya melalui platform digital.
"Bagaimana cara pemenuhan atau pengekspresian rasa dukanya itu berkaitan dengan pada akhirnya diri setiap orang, jadi bahwa ada orang merasa itu lebih pas atau lebih cocok atau yang lebih menguatkan itu seperti apa tergantung orangnya," ujar Sani, dikutip Kamis (19/3).
Fenomena membagikan momen duka di media sosial sering kali bertujuan untuk menunjukkan kedekatan emosional atau rasa sayang yang mendalam terhadap almarhum.
Menurut Sani, hal ini merupakan sesuatu yang wajar asalkan dilakukan dengan cara yang bijak.
"Selama itu baik bahkan mengingatkan orang itu baik, positif, itu menurut saya wajar dan justru malah membangun image yang lebih positif, orang yang enggak tahu jadi tahu, orang yang enggak mengagumi jadi mengagumi, dan sebagainya," tambahnya.
Di sisi lain, Sani juga menekankan bahwa keputusan keluarga untuk tidak membagikan momen duka ke publik adalah hak sepenuhnya yang harus dihormati.
Hal terpenting dalam situasi ini bukan pada metodenya, melainkan pada pemberian ruang bagi keluarga inti untuk menuntaskan proses *grieving* atau masa berkabung.
Proses emosional ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sani menjelaskan bahwa tahun pertama kehilangan adalah masa-masa yang berat, dengan fase paling krusial terjadi pada tiga bulan pertama.
"Diharapkan orang yang kehilangan bisa menyelesaikan dulu secara emosionalnya baru kemudian coping mekanismenya baru ke kegiatan lain, jadi ya gimana cara dia bisa menangis, bisa diberikan ruang untuk bersedih, berduka itu penting banget untuk supaya mentuntaskan kedukaannya," jelas Sani.
Untuk membantu mengelola emosi selama masa berkabung, Sani menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh individu yang sedang berduka, antara lain:
Melalui pendekatan yang tepat, diharapkan seseorang yang tengah berduka dapat melewati fase emosionalnya dengan sehat sebelum kembali beraktivitas normal. (Ant/Z-1)
Bantuan makanan dan minuman, menurutnya, memang menyelamatkan mereka dari kelaparan. Namun, bantuan itu belum mampu menjawab kegelisahan yang lebih dalam tentang masa depan korban.
Paparan cahaya saat musim hujan mengalami penurunan secara signifikan sehingga menyebabkan produksi serotonin dan neurotransmitter berkurang menyebabkan depresi atau melankolis.
Perasaan sedih yang sering timbul saat musim hujan dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.
Perasaan galau sering kali muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang membingungkan atau menimbulkan keraguan, terutama dalam konteks perasaan dan hubungan pribadi
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved