Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJAGA stabilitas emosi saat menghadapi perilaku anak bukanlah perkara mudah bagi orangtua, terlebih di tengah tekanan aktivitas sehari-hari.
Psikolog Klinis Remaja dan Dewasa, Nena Mawar Sari, membagikan kiat penting bagi orangtua agar dapat meregulasi emosi dengan baik, yakni dengan berani mengambil jeda dan menyadari kondisi emosi yang sedang dirasakan.
Menurut Nena, ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil. Ia memperkenalkan konsep HALT (Hungry, Angry, Lonely, Tired) sebagai indikator utama pemicu sensitivitas emosional.
"Biasanya dalam kondisi lapar, marah, kesepian kemudian kita merasa capek, emosi kita jadi mudah terpancing. Nah caranya adalah dengan berjeda dan tetap menyadari emosi kita itu bentuknya yang mana," ujar Nena saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (27/2).
Kondisi ini menjadi lebih menantang saat orangtua sedang menjalankan ibadah puasa. Penurunan kadar gula darah yang memicu rasa lemas, ditambah kesibukan mempersiapkan keperluan rumah tangga, sering kali menguras energi hingga ke titik terendah.
"Kita harus menahanlah emosi, emosional kita, belum lagi sibuk masak dan energi kita habis," jelasnya lebih lanjut.
Nena menekankan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah kunci utama. Dengan menyadari bahwa diri sedang berada dalam kondisi HALT, orangtua diharapkan dapat mengambil tindakan preventif berupa jeda sejenak.
Langkah ini krusial untuk mencegah tindakan impulsif yang berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Alih-alih memaksakan diri yang justru berisiko meluapkan amarah pada anak, orangtua disarankan untuk berkomunikasi secara jujur mengenai kondisinya.
"Jadi nggak apa-apa untuk mengatakan mama sedang capek, bisa nggak kita ngobrolnya nanti atau misalnya lihat gambarnya ya pada saat sudah istirahat dan lain sebagainya sehingga kita bisa menghindari tindakan impulsif," kata Nena.
Selain regulasi diri, faktor eksternal seperti dukungan emosional dari lingkungan terdekat juga memegang peranan vital. Nena menggarisbawahi pentingnya berbagi peran dalam pengasuhan agar beban tersebut tidak hanya tertumpu pada sosok ibu.
Dialog terbuka dengan pasangan menjadi solusi untuk mengurangi hambatan serta menyelesaikan persoalan rumah tangga.
Hal ini termasuk membicarakan pembagian peran yang mungkin dirasa belum seimbang, guna menghadirkan jalan tengah yang tepat bagi kedua belah pihak.
Sebagai penutup, Nena mengingatkan bahwa keharmonisan keluarga merupakan tanggung jawab kolektif.
"Jadi setiap anggota keluarga hendaknya punya peran yang sama dan setara sesuai dengan kapasitasnya masing-masing," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
Emotional eating itu salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar.
Langkah sederhana seperti melatih rasa syukur dan memaafkan diri sendiri merupakan cara efektif menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan pekerjaan.
Puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang memiliki peran krusial dalam fungsi kognitif dan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.
Pengendara wajib memiliki sisi emosional yang terkontrol agar tidak mengambil keputusan ceroboh yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved