Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak dan remaja, Vera Itabiliana, menyoroti bagaimana penggunaan media sosial dapat membawa pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis remaja, terutama dalam proses mereka memahami serta membangun identitas diri.
Menurut Vera, perubahan paling mencolok terlihat pada cara remaja membentuk konsep tentang siapa diri mereka.
“Remaja kini jauh lebih cepat terpapar pada beragam standar sosial, tren, dan opini publik. Hal ini menjadikan proses pencarian jati diri, yang seharusnya berlangsung secara alami, menjadi semakin kompleks,” ujarnya dilansir dari Antara, Kamis (11/12).
Dalam kondisi ideal, pencarian identitas memerlukan waktu, pengalaman langsung, dan interaksi nyata. Namun, aliran informasi tanpa henti di media sosial dapat membuat remaja cenderung mendefinisikan diri berdasarkan sudut pandang orang lain, bukan dari pengalaman pribadi mereka sendiri.
Remaja juga dinilai lebih rentan mengalami kesulitan dalam mengelola emosi.
“Mereka lebih mudah membandingkan kehidupan diri dengan orang lain, lebih sensitif terhadap komentar sosial, dan sering kali mencari validasi eksternal,” kata Vera.
Ia menambahkan bahwa mekanisme reward seperti likes dan notifikasi sangat menarik bagi otak remaja yang sedang haus stimulasi.
Meskipun memiliki potensi risiko, Vera mengakui bahwa media sosial juga menawarkan banyak peluang positif. Platform-platform tersebut dapat menjadi ruang untuk berekspresi, belajar hal baru, hingga membangun jejaring sosial yang sehat.
Namun, ia menegaskan pentingnya pengawasan. “Tanpa pendampingan dari orang tua atau orang dewasa, dampak negatifnya bisa jauh lebih dominan,” tuturnya.
Vera menjelaskan bahwa secara biologis, remaja belum memiliki kemampuan kontrol diri yang matang. Bagian prefrontal cortex, yang bertugas mengatur pengambilan keputusan dan penilaian risiko, masih dalam tahap berkembang.
Akibatnya, remaja mudah terdorong oleh impuls, sulit menahan diri, dan tidak selalu mampu memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka di dunia digital.
Selain faktor biologis, kebutuhan akan penerimaan sosial serta perubahan hormonal membuat emosi remaja lebih fluktuatif dan mereka pun semakin peka terhadap respons orang lain. Kombinasi faktor tersebut menjadikan remaja lebih rentan terhadap tekanan yang hadir di ruang digital.
Untuk meminimalkan risiko jangka panjang terhadap kesehatan mental remaja, Vera menekankan perlunya:
Dengan bekal tersebut, remaja dapat menggunakan media sosial secara lebih sehat dan bijaksana. (RO/Z-10)
Kupas tuntas manfaat & mudarat media sosial! Temukan sisi positif & negatifnya agar bijak berselancar di dunia maya.
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved