Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Mikroplastik kini bukan lagi sekadar isu pencemaran lingkungan. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu telah ditemukan beredar dalam aliran darah manusia, menempel pada pembuluh darah, tersimpan di jaringan otot dan tulang, bahkan masuk ke otak. Mengutip laporan BBC, para ilmuwan telah meneliti fenomena ini dan mulai memahami potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Dalam kehidupan modern, hampir semua orang menghirup dan menelan mikroplastik setiap hari tanpa menyadarinya. Partikel ini berasal dari makanan dan minuman kemasan, air botolan, polusi udara, hingga aktivitas sederhana seperti menyeduh teh dengan kantong teh berlapis plastik atau memanaskan makanan dalam wadah plastik.
Penelitian menunjukkan bahwa proses pemanasan mempercepat pelepasan partikel plastik dari benda-benda yang digunakan sehari-hari. Partikel berukuran sangat kecil inilah yang diduga bisa masuk ke aliran darah dan menetap di jaringan tubuh karena tidak dapat diuraikan.
Dalam setahun terakhir, sejumlah penelitian mengungkap temuan mencengangkan. Mikroplastik terdeteksi pada jaringan tulang dan otot pasien operasi penggantian sendi. Para ahli khawatir keberadaan partikel ini dapat melemahkan tulang serta mengganggu pembentukan sel otot baru.
Mikroplastik juga ditemukan pada plak arteri karotis, pembuluh utama yang memasok darah ke otak. Pasien yang memiliki mikroplastik di dalam plak tersebut tercatat memiliki risiko 4,5 kali lebih tinggi mengalami stroke, serangan jantung, atau kematian mendadak dalam tiga tahun berikutnya.
Tak berhenti di situ, mikroplastik juga ditemukan dalam jaringan otak manusia. Pada pemeriksaan jenazah, ternyata penderita demensia memiliki jumlah mikroplastik hingga sepuluh kali lebih banyak dibandingkan individu sehat. Para ilmuwan menduga partikel plastik dapat menumpang pada lemak yang digunakan otak sebagai sumber energi dan menembus sistem saraf pusat, terutama ketika sawar darah-otak melemah.
Meski temuan-temuan ini mengkhawatirkan, para peneliti belum dapat menyimpulkan bahwa mikroplastik merupakan penyebab langsung suatu penyakit. Dampaknya lebih menyerupai tekanan jangka panjang yang perlahan melemahkan tubuh.
Beberapa efek kesehatan yang telah teridentifikasi antara lain:
Nanoplastik, partikel yang lebih kecil dari mikroplastik, bahkan dapat menembus membran sel dan menumpuk di dalamnya, membuat risiko kesehatannya semakin sulit diprediksi.
Meski penelitian terus berkembang, para ilmuwan sepakat bahwa mikroplastik sudah menjadi ancaman kesehatan global. Dampaknya mungkin tidak terasa sekarang, tetapi akumulasi bertahun-tahun bisa menimbulkan masalah serius di masa mendatang.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk waspada dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi mencegah risiko kesehatan jangka panjang.
DPR menyebut paparan mikroplastik dan timbal pada anak Indonesia sudah darurat, bahkan terjadi sejak dalam kandungan dan berisiko mengganggu tumbuh kembang.
IDAI mengimbau orang tua waspada terhadap bahaya mikroplastik pada mainan anak dan menyarankan penggunaan bahan alami seperti kayu dan tanah liat.
Marcella Zalianty dorong perluasan skrining jantung anak berkebutuhan khusus. IDAI juga ingatkan bahaya mikroplastik pada bayi sejak dalam kandungan.
IDAI memperingatkan bahwa anak-anak lebih rentan terpapar mikroplastik dan logam berat yang berdampak pada penurunan IQ hingga gangguan organ.
IDAI menyarankan orang tua beralih ke mainan berbahan kayu atau tanah liat guna menghindari risiko paparan mikroplastik dari bahan plastik berbahaya.
IDAI memperingatkan kerentanan anak terhadap mikroplastik dan timbal yang dapat memicu gangguan saraf hingga penurunan IQ. Simak penjelasannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved