Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS perundungan (bullying) yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental remaja tengah berada di titik mengkhawatirkan.
Psikiater dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, menjelaskan bahwa memahami karakter dan fase perkembangan remaja menjadi kunci penting dalam menangani krisis kesehatan mental yang semakin nyata.
"Remaja merupakan masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa. Pada fase ini, seseorang mengalami perubahan besar pada aspek fisik, mental, emosional, dan sosial. Masa ini dikenal sebagai periode pencarian jati diri. Remaja mulai memahami siapa dirinya dan perannya dalam masyarakat," jelasnya.
Beberapa waktu ini, dunia maya ramai akan beragam kasus perundungan. Tragedi remaja di Sukabumi yang mengakhiri hidupnya akibat tekanan teman sebaya, kasus santri di Aceh yang membakar pesantrennya karena tidak tahan di-bully, hingga peristiwa mengejutkan di salah satu sekolah di Jakarta ketika korban bullying meledakkan bom rakitan.
MI/HO--Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc.Menurut dr Riati, konsep sehat jiwa masih sering disalahartikan. Banyak yang menganggap sehat mental berarti tidak ada gangguan kejiwaan. Padahal, World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial.
"Dalam konteks remaja, sehat mental berarti mampu mengenali dan mengelola emosi, menjalin hubungan positif, serta beradaptasi terhadap tekanan hidup," tuturnya.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa juga menegaskan bahwa individu yang sehat mental mampu berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, menyadari kemampuan diri, serta bekerja secara produktif.
Menurut dr Riati, gangguan kesehatan mental pada remaja dapat muncul melalui berbagai tanda, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, munculnya pikiran negatif berkepanjangan, mudah marah, melanggar aturan, hingga keluhan fisik tanpa sebab jelas.
Pada beberapa kasus, remaja menggunakan rokok, alkohol, atau obat-obatan untuk meredakan stres. Penyebabnya bersifat multifaktor.
Tekanan teman sebaya, pencarian identitas diri, pengaruh media sosial, norma gender, hubungan keluarga yang tidak harmonis, hingga kekerasan di lingkungan sekitar dapat menjadi pemicu utama stres pada remaja.
WHO mencatat gangguan emosional, gangguan perilaku, gangguan pola makan, psikosis, hingga perilaku menyakiti diri sebagai beberapa masalah mental yang banyak ditemukan pada kelompok usia ini.
dr Riati menegaskan bahwa remaja sehat mental bukan berarti tidak memiliki masalah, namun mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijak.
Ia memaparkan sejumlah ciri remaja dengan kesehatan mental yang baik. Yakni mereka mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat, menunjukkan empati, berpikir positif, merasa bahagia, menerima diri sendiri, serta mampu menjalankan perannya sebagai makhluk Tuhan.
"Kesehatan mental remaja adalah fondasi penting bagi terbentuknya generasi yang tangguh di masa depan. Bila sejak dini mereka belajar mencintai diri sendiri dan berani meminta bantuan ketika membutuhkan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat dan produktif," tutupnya. (Z-1)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Roblox resmi membuka Teen Council Asia 2026. Remaja Indonesia usia 14-17 tahun diajak berkontribusi dalam keamanan digital. Simak syarat dan cara daftar.
Gagal ginjal kini banyak menyerang usia muda akibat pola hidup tidak sehat. Kenali gejala, penyebab, dan cara mencegahnya sejak dini agar tidak berujung cuci darah.
Roblox ajak remaja Indonesia usia 14-17 tahun gabung Teen Council Asia. Simak syarat, jadwal pendaftaran, dan misi keamanan digital di sini.
PkM melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SIJB untuk pencegahan dan penanganan segera bagi siswa yang menunjukkan adanya permasalahan.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan untuk mencegah penggunaan vape pada remaja di tengah masifnya promosi.
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved