Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
OBESITAS dan diabetes, dua penyakit kardiovaskular yang semakin meningkat di Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang signifikan. Pencegahan kedua penyakit ini menjadi langkah strategis dalam menekan beban penyakit tidak menular (PTM) yang semakin mengkhawatirkan.
Mengutip kemenkes.go.id, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebutkan bahwa prevalensi obesitas dan diabetes terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.
"Saat ini, satu dari empat orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, dan satu dari sepuluh orang dewasa menderita diabetes," ujarnya. Ia juga mencatat bahwa usia permulaan kedua penyakit ini semakin muda, dengan penderita yang kini lebih banyak berusia 30-an tahun, bukan lagi 50-an tahun.
Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF), sekitar 20,4 juta orang di Indonesia menderita diabetes. Pembiayaan kesehatan untuk penanganan diabetes diperkirakan mencapai Rp25 triliun, dengan penyakit jantung dan stroke sebagai beban terbesar. Diabetes Tipe 2 (DMT2) adalah bentuk yang paling umum ditemukan. Selain itu, data dari NCD-RisC mencatat bahwa 6,53% pria dewasa dan 16,58% wanita dewasa di Indonesia mengalami obesitas, yang menelan biaya sekitar Rp 23 triliun per tahun.
Pedoman Pengelolaan Obesitas dan Diabetes yang diterbitkan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia menyebutkan bahwa dua pilar utama pengelolaan penyakit ini adalah edukasi dan penggunaan obat anti-diabetes, disertai dengan pemantauan fisik, evaluasi laboratorium, serta skrining psikis. Jika kondisi penyakit memburuk, penanganan hipoglikemia (glukosa darah < 70 mg/dL) diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Obesitas pada Anak-Anak: Sebuah Masalah yang Meningkat
Yang lebih memprihatinkan adalah meningkatnya angka obesitas pada anak-anak. Data dari Kementerian Kesehatanmenunjukkan tren peningkatan obesitas pada anak yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pola makan tinggi gula, lemak, dan garam, serta gaya hidup yang kurang gerak menjadi faktor penyebab utama. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget daripada beraktivitas fisik di luar ruangan.
Menurut data Kemenkes, satu dari lima anak di Indonesia mengalami kelebihan berat badan, dengan sebagian di antaranya sudah tergolong obesitas. Anak-anak dengan obesitas berisiko tinggi mengalami penyakit tidak menular di usia muda, seperti diabetes, hipertensi, gangguan jantung, serta masalah metabolik lainnya. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat mereka menjadi generasi yang terbebani dengan masalah kesehatan jangka panjang di masa depan.
Kesmas Kemenkes mengingatkan pentingnya pencegahan sejak dini. Sekolah dan keluarga harus menjadi garda terdepan dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Anak-anak perlu diajarkan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi minuman manis, serta rutin berolahraga minimal 60 menit setiap hari. Orang tua juga disarankan untuk membatasi waktu anak di depan layar maksimal dua jam per hari dan memastikan mereka mendapatkan tidur yang cukup.
Kemenkes juga menekankan bahwa gerakan kesehatan masyarakat harus menjadi program nyata yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Kampanye hidup bersih dan sehat tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun tempat kerja.
Menurut Columbia Asia Hospital, obesitas yang dibiarkan sejak masa kanak-kanak dapat memicu berbagai gangguan kesehatan kronis, seperti gangguan pernapasan, kolesterol tinggi, resistensi insulin, serta gangguan psikologis akibat stigma sosial. Karena itu, penanganan obesitas tidak hanya sebatas medis, tetapi juga melibatkan pembentukan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat.
Pencegahan Obesitas dan Diabetes: Kunci Masa Depan Kesehatan Nasional
Pencegahan obesitas dan diabetes sejak dini merupakan kunci untuk mengurangi beban penyakit dan biaya kesehatan nasional. Dengan perubahan perilaku, edukasi masyarakat, serta dukungan kebijakan pemerintah, Indonesia dapat menciptakan generasi yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sumber: kemenkes.go.id, investor.id, diagnos.co.id, brin.go.id, Buku Pedoman Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
Katarak bukan lagi penyakit lansia. Kenali katarak juvenil yang mengincar usia produktif akibat diabetes, trauma, hingga miopia tinggi. Cek gejalanya di sini!
Masyarakat disarankan melakukan deteksi dini, yaitu skrining untuk mengidentifikasi risiko diabetes sejak awal.
Konsumsi minuman berpemanis (SSB) di Indonesia meningkat tajam. Pakar Gizi IPB ingatkan risiko diabetes dan pentingnya membatasi asupan gula harian.
Gula aren sering dianggap lebih sehat, tapi benarkah aman untuk diabetes? Simak kandungan, indeks glikemik, batas konsumsi harian, serta risiko kesehatan jika berlebihan.
Simak 5 cara efektif menjaga kadar gula darah tetap stabil, mulai dari pola makan hingga kelola stres, guna mencegah komplikasi diabetes sejak dini.
Sering kesemutan atau mati rasa? Jangan anggap sepele. Bisa jadi itu tanda neuropati perifer, gangguan saraf yang berbahaya jika dibiarkan.
Studi ATTICA selama 20 tahun mengungkap bahwa individu dengan obesitas sehat secara metabolik (MHO) tetap memiliki risiko penyakit jantung 39% lebih tinggi.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Telur merupakan sumber protein hewani yang sudah menjadi pangan pokok dan banyak dikonsumsi masyarakat.
PENELITIAN yang diterbitkan dalam Jurnal Asosiasi Jantung Amerika menemukan infeksi virus kronis tertentu seperti herpes zoster dan hepatitis C dapat meningkatkan risiko kardiovaskular.
Banyak kebiasaan yang tampak sepele ternyata membawa dampak besar bagi jantung dalam jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved