Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini berkembang anggapan bahwa individu dengan obesitas tetapi memiliki profil metabolik yang normal--seperti tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol terjaga--berada dalam kondisi aman dari ancaman penyakit jantung. Namun, temuan terbaru dari studi prospektif jangka panjang Attica memberikan peringatan serius: tidak ada istilah obesitas yang benar-benar aman.
Studi yang dilakukan di wilayah Attica, Yunani, selama periode 20 tahun (2002-2022) ini mengamati 3.042 partisipan untuk memahami hubungan antara fenotipe obesitas dan risiko penyakit kardiovaskular (CVD). Hasilnya menunjukkan bahwa status metabolik memang berpengaruh, tetapi berat badan berlebih tetap menjadi faktor risiko independen yang signifikan.
Karena itu, Felix Zulhendri PHD dalam akunnya di Instagram menyebut, "Makin jelas. Enggak ada yang namanya gendut tapi sehat." Ia pun menyampaikan studi tersebut.
Penelitian ini membagi partisipan ke dalam empat kategori utama berdasarkan indeks massa tubuh (BMI) dan kesehatan metabolik:
Data menunjukkan bahwa kelompok MUWO memiliki risiko tertinggi dengan tingkat kejadian CVD mencapai 61,1%. Namun, yang mengejutkan adalah kelompok MHO. Meskipun mereka tidak menunjukkan gejala klinis seperti hipertensi atau diabetes di awal studi, mereka tetap memiliki risiko 39% lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan kelompok berat badan normal yang sehat (MHWO).
| Fenotipe | Peningkatan Risiko (HR) |
|---|---|
| MUO (Obesitas tidak Sehat) | 85% Lebih Tinggi |
| MHO (Obesitas 'Sehat') | 39% Lebih Tinggi |
Para peneliti menjelaskan bahwa hubungan antara obesitas dan penyakit jantung dimediasi oleh mekanisme yang lebih kompleks daripada sekadar angka tekanan darah atau gula darah. Beberapa faktor yang berperan antara lain:
Studi ini menegaskan bahwa status sehat secara metabolik pada individu dengan obesitas mungkin hanya bersifat sementara atau transisi. Seiring bertambahnya usia, individu MHO seringkali bergeser menjadi MUWO.
Oleh karena itu, tim peneliti menekankan pentingnya intervensi gaya hidup--seperti aktivitas fisik rutin dan pola makan Mediterania--bagi semua individu dengan obesitas, tanpa memandang apakah hasil laboratorium mereka saat ini menunjukkan angka yang normal atau tidak. Menjaga berat badan ideal tetap menjadi pilar utama dalam pencegahan penyakit kardiovaskular jangka panjang. (I-2)
Referensi: Analisis data dari ATTICA Study (2002–2022) yang melibatkan 1.988 partisipan dengan data lengkap selama 20 tahun pemantauan.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Telur merupakan sumber protein hewani yang sudah menjadi pangan pokok dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Obesitas dan diabetes, dua penyakit kardiovaskular yang semakin meningkat di Indonesia, tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi.
PENELITIAN yang diterbitkan dalam Jurnal Asosiasi Jantung Amerika menemukan infeksi virus kronis tertentu seperti herpes zoster dan hepatitis C dapat meningkatkan risiko kardiovaskular.
Banyak kebiasaan yang tampak sepele ternyata membawa dampak besar bagi jantung dalam jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved