Studi Attica: Obesitas Sehat secara Metabolik Tetap Berisiko Jantung

Media Indonesia
22/4/2026 21:58
Studi Attica: Obesitas Sehat secara Metabolik Tetap Berisiko Jantung
Ilustrasi.(Freepik)

SELAMA ini berkembang anggapan bahwa individu dengan obesitas tetapi memiliki profil metabolik yang normal--seperti tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol terjaga--berada dalam kondisi aman dari ancaman penyakit jantung. Namun, temuan terbaru dari studi prospektif jangka panjang Attica memberikan peringatan serius: tidak ada istilah obesitas yang benar-benar aman.

Studi yang dilakukan di wilayah Attica, Yunani, selama periode 20 tahun (2002-2022) ini mengamati 3.042 partisipan untuk memahami hubungan antara fenotipe obesitas dan risiko penyakit kardiovaskular (CVD). Hasilnya menunjukkan bahwa status metabolik memang berpengaruh, tetapi berat badan berlebih tetap menjadi faktor risiko independen yang signifikan.

Karena itu, Felix Zulhendri PHD dalam akunnya di Instagram menyebut, "Makin jelas. Enggak ada yang namanya gendut tapi sehat." Ia pun menyampaikan studi tersebut.

MHO vs MUO: Membedah Risiko

Penelitian ini membagi partisipan ke dalam empat kategori utama berdasarkan indeks massa tubuh (BMI) dan kesehatan metabolik:

  • MHWO (Metabolically Healthy Without Obesity): Berat badan normal dan sehat secara metabolik.
  • MUWO (Metabolically Unhealthy Without Obesity): Berat badan normal tetapi memiliki gangguan metabolik.
  • MHO (Metabolically Healthy Obesity): Obesitas tetapi profil metabolik tampak sehat.
  • MUO (Metabolically Unhealthy Obesity): Obesitas disertai gangguan metabolik.

Data menunjukkan bahwa kelompok MUWO memiliki risiko tertinggi dengan tingkat kejadian CVD mencapai 61,1%. Namun, yang mengejutkan adalah kelompok MHO. Meskipun mereka tidak menunjukkan gejala klinis seperti hipertensi atau diabetes di awal studi, mereka tetap memiliki risiko 39% lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan kelompok berat badan normal yang sehat (MHWO).

Temuan Utama Studi ATTICA (20 Tahun):
Fenotipe Peningkatan Risiko (HR)
MUO (Obesitas tidak Sehat) 85% Lebih Tinggi
MHO (Obesitas 'Sehat') 39% Lebih Tinggi

Mengapa Obesitas Tetap Berbahaya?

Para peneliti menjelaskan bahwa hubungan antara obesitas dan penyakit jantung dimediasi oleh mekanisme yang lebih kompleks daripada sekadar angka tekanan darah atau gula darah. Beberapa faktor yang berperan antara lain:

  1. Inflamasi Kronis: Partisipan dengan obesitas menunjukkan kadar C-reactive protein (CRP) yang secara signifikan lebih tinggi, menandakan adanya peradangan sistemik.
  2. Disfungsi Jaringan Adiposa: Ekspansi jaringan lemak yang tidak sehat dapat menyebabkan hipoksia seluler dan sekresi adipokin yang mengganggu fungsi pembuluh darah.
  3. Lemak Ektopik: Penumpukan lemak pada organ dalam (seperti hati dan jantung) serta remodeling jantung tetap terjadi meskipun profil darah terlihat normal.

Implikasi Klinis

Studi ini menegaskan bahwa status sehat secara metabolik pada individu dengan obesitas mungkin hanya bersifat sementara atau transisi. Seiring bertambahnya usia, individu MHO seringkali bergeser menjadi MUWO.

Oleh karena itu, tim peneliti menekankan pentingnya intervensi gaya hidup--seperti aktivitas fisik rutin dan pola makan Mediterania--bagi semua individu dengan obesitas, tanpa memandang apakah hasil laboratorium mereka saat ini menunjukkan angka yang normal atau tidak. Menjaga berat badan ideal tetap menjadi pilar utama dalam pencegahan penyakit kardiovaskular jangka panjang. (I-2)

Referensi: Analisis data dari ATTICA Study (2002–2022) yang melibatkan 1.988 partisipan dengan data lengkap selama 20 tahun pemantauan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya