Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak dan keluarga Mira Damayanti Amir menyatakan tidak heran dengan masih tingginya angka kekerasan terhadap anak. Ia menyebut kondisi tekanan ekonomi turut berpengaruh terhadap potensi kekerasan terhadap anak.
Seperti diketahui, kekerasan anak masih menjadi PR besar di Tanah Air. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan angka prevalensi kekerasan terhadap anak memang lebih rendah dari tahun 2018, tetapi lebih tinggi dibandingkan angka prevalensi tahun 2021.
"Ada kondisi-kondisi yang menjadi pressure (tekanan) buat orang tua atau keluarga. Salah satunya yang paling jelas adalah ekonomi. Apalagi makin ke sini angka pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di sana sini," kata Mira ketika dihubungi Media Indonesia, Selasa (8/10).
Baca juga : Pelaku Kekerasan terhadap Anak Disebut Cenderung Punya Gangguan Mental
Situasi ekonomi yang sulit itu ketika menimpa orang tua usia produktif, itu akan semakin kompleks karena anak-anaknya masih berada di fase tumbuh kembang atau usia sekolah.
Mira mengatakan bahwa berbagai tekanan, baik ekonomi, psikologis, mental, emosional, menyebabkan orang tua sulit mengahdirkan parenting yang tidak mengandung unsur kekerasan, baik fisik maupun verbal. Ia pun menyoroti kasus-kasus kekerasan verbal yang angkanya bisa lebih tinggi karena sulit dibuktikan.
"Ketika saya berhadapan dengan anak sebagai korban, mereka memberikan batasan, membandingkan anak dan menyindir anak itu termasuk kekerasan terhadap diri mereka," kata dia.
Baca juga : Kekerasan Anak Meningkat 30%, Dibutuhkan Kepekaan Publik
Di sisi lain, pelaporan untuk kasus kekerasan terhadap anak juga menemui banyak kendala. "Anak itu kalau misalnya orang tuanya ditahan, situasinya menjadi rumit. Anak-anak ini akan diasuh, dibesarkan, secara ekonomi akan bergantungnya kepada siapa?" ujar Mira.
Ia mencontohkan ketika kekerasan dilakukan oleh ayah, si ibu sering kali berada di bawah intimidasi ayah karena secara ekonomi masih bergantung pada suami. Karena itu ibu tidak berani melaporkan. "Yang lebih celaka lagi, (jika) pelaku kekerasannya perempuan, eh si suaminya juga gak bisa berkutik, mendiamkan hal tersebut," kata Mira.
Ia pun berpesan agar masyarakat jangan apatis ketika mengetahui ada kekerasan terhadap anak. "Kalau ada perilaku tersebut, dihentikan, bukan di-video-kan lalu diunggah di medsos. Terus anak yang jadi korban bagaimana? Belum lagi kalau identitasnya terbuka. Sudah dia mengalami trauma, lalu dia mengalami malu luar biasa," pungkasnya. (Z-9)
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Wihaji menekankan bahwa setiap daycare yang masuk dalam binaan pemerintah harus melalui proses seleksi ketat.
KPAI mengutuk keras kekerasan terhadap 53 anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta. Jasra Putra soroti lemahnya pengawasan dan regulasi daycare di daerah.
Pemkot Banda Aceh resmi menutup Daycare Baby Preneur setelah kasus penganiayaan balita viral. Terungkap bahwa tempat penitipan anak tersebut tidak memiliki izin.
Polresta Banda Aceh menangkap terduga pelaku penganiayaan balita di Daycare Baby Preneur. Kasus terungkap setelah rekaman CCTV viral di media sosial.
Pihak korban menyampaikan tiga kebutuhan utama, yakni penegakan hukum yang transparan, pendampingan menyeluruh, serta jaminan pembiayaan bagi anak-anak korban.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved