Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GASTRO Esophageal Reflux Disease (GERD) tidak mengancam jiwa secara langsung, namun dapat mengakibatkan beberapa komplikasi yang berbahaya. Hal itu diatakan Dokter Spesialis Gastroenterologi FKUI-RSCM Prof Ari Fahrial Syam.
Jika diabaikan dan tidak diobati dengan benar, GERD dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada dinding dalam kerongkongan (esofagus).
"Lama-kelamaan akan menyebabkan luka kronis, penyempitan pada kerongkongan bawah, sampai terjadi kanker esofagus," ujar Prof. Ari dalam webinar, dikutip Rabu (16/2).
Baca juga : Waspada, GERD Juga Bisa Dialami Kaum Muda
GERD adalah penyakit saluran cerna dengan gejala dan komplikasi yang mengganggu, akibat refluks atau naiknya isi lambung ke kerongkongan.
GERD bisa disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter pada esofagus bagian bawah, sehingga tidak mampu menutup dengan baik.
Gejala utama penyakit ini adalah sensasi nyeri dan juga rasa terbakar (heartburn) pada dada dan mulut terasa pahit.
Baca juga : Pantangan Asam Lambung alias GERD, ini yang tidak Boleh Dimakan
Prof Ari menyebutkan beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan GERD seperti obesitas, hernia hiatal, kehamilan, pengosongan lambung yang terlambat, dan skleroderma.
Selain itu, kekambuhan dari GERD juga dapat dipicu oleh beberapa aktivitas seperti merokok, mengonsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus, makan di waktu yang terlalu larut, mengonsumsi makanan yang berlemak atau digoreng, mengonsumsi minuman atau makanan berkafein, serta mengonsumsi obat tertentu seperti aspirin.
Penanganan GERD yang tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi peradangan pada dinding dalam kerongkongan atau esofagus. Peradangan tersebut dapat menyebabkan munculnya luka hingga jaringan parut di kerongkongan sehingga penderita menjadi sulit menelan.
Baca juga : Kenali Gejala Asam Lambung
"Kondisi ini juga memicu terjadinya Esofagitis, Striktur Esofagus, dan Barrett's Esophagus yaitu penyakit yang berisiko menimbulkan kanker esofagus. GERD dapat menyebabkan kematian apabila sudah terjadi perubahan struktur esofagus dan bertransformasi menjadi kanker esofagus," kata Prof Ari.
Secara global, prevalensi GERD adalah 8-33% (semua umur, semua jenis kelamin). Prevalensi GERD di masing-masing negara berbeda-beda, contohnya lebih dari 25% di Asia Selatan dan Eropa Selatan, 18-27% di Amerika Utara, dan kurang dari 10% di Asia Timur, Asia Tenggara, Kanada, dan Prancis.
Sebuah penelitian di Indonesia menunjukkan prevalensi GERD pada penduduk perkotaan adalah 9,35%. Namun sebuah survei daring dengan 2.045 responden, menunjukkan 57,6% responden menderita GERD yang diketahui dengan mengisi GERD-Quesionnaire (GERD-Q).
Baca juga : GERD dan Maag bukan Penyakit Seumur Hidup
Menurut Prof Ari, penatalaksanaan yang paling penting dari GERD adalah dengan mencegah terjadinya kekambuhan. Oleh karenanya, perlu ada edukasi kepada penderita agar memahami faktor risiko dan pemicu dari terjadinya GERD, untuk sebisa mungkin dihindari.
"Penderita GERD juga akan direkomendasikan untuk melakukan perbaikan gaya hidup untuk mencegah kekambuhan, seperti memiliki berat badan ideal, berhenti merokok, tidak berbaring segera setelah makan, makan dengan perlahan, serta tidak menggunakan pakaian yang terlalu ketat pada area pinggang," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Baca juga : Gerd dan Maag Bisa Disembuhkan Lho, Ini Caranya!
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Bertambahnya suhu bumi membuat kuman maupun virus bisa bertumbuh dengan lebih subur sehigga cukup berbahaya pada anak yang belum terproteksi dengan imunisasi rutin.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andi Kurniawan Sp.KO ingatkan jemaah haji waspadai risiko diabetes, hipertensi, hingga jantung akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Pakar ungkap kaitan erat GERD dan serangan panik sebagai lingkaran setan medis. Simak penjelasan mengenai gejala, peran saraf vagus, hingga terapinya.
Fenomena GERD ternyata berkaitan erat dengan gangguan kecemasan. Simak fakta medis terbaru, penyebab sebenarnya, dan cara memutus siklusnya.
Meski bukan penyebab utama, berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres dapat memperburuk gejala GERD dan membuatnya lebih sering kambuh.
Obat ini telah resmi memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) untuk indikasi pengobatan esofagitis erosif (erosive esophagitis/EE).
Masyarakat diingatkan agar tidak terlalu banyak mengonsumsi kue-kue lebaran karena bisa berdampak pada kesehatan.
Konsumsi daging merah yang berlebihan dalam sesi AYCE dapat memicu masalah pencernaan serius, terutama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved