Waspada Gejala Mirip Serangan Jantung, Ternyata Kaitan Erat GERD dan Panic Attack

Intan Safitri
25/4/2026 14:19
Waspada Gejala Mirip Serangan Jantung, Ternyata Kaitan Erat GERD dan Panic Attack
Pakar ungkap kaitan erat GERD dan serangan panik sebagai lingkaran setan medis.(Dok. Freepik)

PAKAR kesehatan mengungkapkan adanya hubungan timbal balik yang erat antara Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan serangan panik yang sering disebut sebagai "lingkaran setan" medis. Kondisi ini dipicu oleh kemiripan gejala fisik yang sering kali menyesatkan pasien hingga memicu kecemasan kronis.

Kaitan antara kesehatan saluran pencernaan dan kondisi psikologis kini menjadi perhatian serius di dunia medis. Studi dari Harvard Health mengonfirmasi bahwa GERD tidak hanya menyebabkan gangguan fisik, tetapi juga merupakan pemicu signifikan bagi serangan panik (panic attack).

Fenomena The GERD-Anxiety Loop

Para ahli mendefinisikan hubungan ini sebagai lingkaran setan. Kecemasan kronis diketahui dapat meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri di kerongkongan atau disebut hiperalgesia esofagus. Kondisi ini membuat penderita merasa nyeri yang hebat meski jumlah asam lambung yang naik tergolong sedikit.

Sebaliknya, gejala fisik GERD sering kali menjadi pemantik utama munculnya gangguan psikologis. Rasa terbakar di dada dan sesak napas yang menjadi ciri khas GERD secara otomatis mengirimkan sinyal bahaya ke otak, yang kemudian memicu respon fight-or-flight.

Mimikri Gejala yang Menyesatkan

Salah satu faktor yang menyebabkan eskalasi GERD menjadi serangan panik adalah kemiripan gejala kedua kondisi tersebut. Pasien sering kali terjebak dalam rasa takut yang luar biasa karena mengira gejala GERD yang mereka alami adalah serangan jantung.

Gejala seperti nyeri dada, jantung berdebar (palpitasi), dan sesak napas dialami oleh penderita GERD maupun orang yang sedang mengalami serangan panik. Ketika seseorang mengalami sesak napas akibat refluks, mereka cenderung mengalami hiperventilasi yang justru memperparah kondisi panik mereka.

Peran Saraf Vagus dan Hipersensitivitas

Secara biologis, hubungan ini dimediasi oleh saraf vagus, yaitu saraf yang menghubungkan otak dengan sistem pencernaan. Iritasi pada kerongkongan akibat asam lambung dapat mengganggu kinerja saraf vagus. Karena saraf ini juga mengatur ritme jantung dan pernapasan, iritasi tersebut dapat menimbulkan sensasi fisik yang memicu perasaan gelisah mendadak.

Selain itu, penderita gangguan kecemasan umumnya memiliki ambang batas nyeri yang lebih rendah terhadap gangguan di area esofagus. Otak penderita cenderung menginterpretasikan sinyal dari lambung sebagai ancaman besar, sehingga memicu kepanikan sistemik.

Pendekatan Terapi Kombinasi

Melihat kompleksitas hubungan ini, pendekatan pengobatan kini mulai beralih ke terapi ganda. Dokter tidak hanya meresepkan obat penekan asam lambung seperti Proton Pump Inhibitors (PPI), tetapi juga menyarankan Terapi Kognitif Perilaku (CBT).

Terapi CBT bertujuan membantu pasien mengenali dan membedakan antara sensasi fisik akibat asam lambung dan ancaman medis nyata. Dengan pemahaman yang lebih baik, pasien dapat mengelola respon mental mereka saat gejala GERD muncul, sehingga mencegah terjadinya serangan panik yang lebih parah.

Pakar tetap menyarankan pemeriksaan jantung menyeluruh (EKG) untuk memastikan bahwa gejala yang dialami murni berasal dari interaksi lambung dan saraf, bukan masalah kardiovaskular. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya