Tak Cuma Asam Lambung, Ini Fakta Mengejutkan Hubungan GERD & Serangan Panik

 Gana Buana
24/4/2026 20:21
Tak Cuma Asam Lambung, Ini Fakta Mengejutkan Hubungan GERD & Serangan Panik
Fenomena GERD ternyata berkaitan erat dengan gangguan kecemasan.(Dok. Freepik)

BAGI kebanyakan orang, makan adalah momen sederhana yang menyenangkan. Namun bagi penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan maag kronis, aktivitas ini justru bisa berubah menjadi sumber ketakutan.

Rasa perih di ulu hati, sensasi panas di dada, hingga napas terasa sempit sering muncul setelah makan. Kondisi ini tak jarang memicu kecemasan berlebihan, bahkan hingga rasa takut akan kematian. Fenomena ini kini dikenal sebagai lingkaran psikosomatis antara gangguan lambung dan kesehatan mental.

Praktisi kesehatan sekaligus caregiver penyintas GERD, Dera Nur Tresna (M.Kes), membagikan pengalaman personal yang menjadi titik balik pemahamannya tentang penyakit ini.

Ia mengingat momen krisis yang terjadi pada 2019 saat suaminya mengalami serangan panik akibat gangguan lambung.

“Waktu itu dini hari, rasanya seperti kehilangan,” ungkapnya dalam acara Health Talk bertema “Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety” yang digelar di The Mirah Hotel Bogor, belum lama ini. 

Dera mengaku sempat mengikuti pola umum dengan menyajikan makanan hambar demi menjaga kondisi lambung. Namun pendekatan tersebut justru berdampak sebaliknya.

Secara ilmiah, makanan yang tidak menggugah selera dapat meningkatkan stres, menurunkan nafsu makan, dan memperburuk kondisi psikologis pasien. Hal ini kemudian memperkuat siklus gangguan antara lambung dan pikiran.

Dari pengalaman tersebut, lahirlah inovasi nutrisi bernama Nutriged, sereal multigrain yang dirancang sebagai comfort food bagi penderita GERD.

“Kami ingin pasien tetap bisa makan enak tanpa rasa takut,” jelas Dera.

Sementara itu, dokter spesialis gizi klinik, Ratri Saumi (Sp.GK), menegaskan bahwa masalah utama GERD bukan terletak pada asam lambung itu sendiri.

“Asam lambung itu penting. Yang jadi masalah adalah ketika naik ke kerongkongan akibat katup yang melemah,” ujarnya.

Ketika iritasi terjadi, lambung mengirim sinyal ke otak melalui mekanisme gut-brain axis. Respon ini memicu produksi hormon stres seperti kortisol, yang pada akhirnya meningkatkan produksi asam lambung.

Siklus ini membuat gejala semakin parah dan memicu kecemasan, termasuk kondisi ekstrem seperti thanatophobia atau ketakutan akan kematian.

Psikolog klinis Mutia Qoriana, (M.Psi), menjelaskan bahwa gejala fisik seperti dada sesak sering disalahartikan sebagai kondisi fatal, padahal berasal dari respons kecemasan yang diperkuat oleh gangguan lambung.

Untuk mengatasi hal ini, dr. Ratri memperkenalkan pendekatan komprehensif melalui Protokol 5R, yaitu Remove, Replace, Reinoculate, Repair, dan Rebalance. Metode ini berfokus pada pemulihan fungsi lambung secara menyeluruh, bukan sekadar menekan asam.

Di sisi lain, inovasi Nutriged juga dikembangkan dengan pendekatan unik oleh Nutraceutical Researcher, Ramdani Husnul Huluq.

Ia melibatkan anaknya yang masih berusia 3 tahun sebagai penguji rasa.

“Kalau anak kecil bisa menikmati rasanya, maka pasien juga akan merasa lebih nyaman,” ujarnya.

Produk ini menggabungkan bahan multigrain dengan pendekatan nutrisi modern untuk membantu melindungi dan memperbaiki lapisan lambung.

Pendekatan terpadu antara nutrisi yang tepat, pengelolaan stres, serta dukungan emosional dinilai menjadi kunci dalam memutus siklus GERD dan kecemasan.

Kini, harapan bagi para penderita semakin terbuka, bahwa hidup nyaman tanpa rasa takut setelah makan bukan lagi sekadar angan. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya