Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR informasi yang dapat diakses setiap orang seperti saat ini menjadi titik balik publik kembali dan tidak menggeser kepercayaan terhadap informasi yang disajikan oleh media konvensional.
Pakar komunikasi Universitas Indonesia Firman Kurniawan Sujono mengatakan kredibilitas sumber informasi jadi pertimbangan penting, karena publik mulai sangat kritis dan selektif dengan informasi yang dikonsumsinya.
"Titik balik yang dimaksud, jika selama ini publik mengunyah informasi apa pun dari media sosial media tanpa peduli kredibilitas sumbernya, maka gejala yang nampak dari angka 63% itu kini publik lebih memilih yang direlease institusi media konvensional," jelasnya kepada Media Indonesia di Jakarta, hari ini.
Baca juga: Sofisme dan Dunia Media Sosial
Nilai dan disiplin jurnalisme yang dipegang oleh media konvensional berdampak pada kualitas informasi yang terpercaya. Kepercayaan publik terhadap media konvensional 63% menurutnya dapat dipahami sebagai kecenderungan adanya peralihan dari media konvensional ke media digital
"Artinya kecenderungan beralihnya dari sumber konvensional ke media digital termasuk yang dikelola citizen journalist, adalah gejala sesaat. Yang kemudian faktanya kembali ke media konvensional. Hoaks, fake news dan disinformasi yang mudah tersebar lewat medsos menjadi pemicu titik balik itu." tegasnya.
Kondisi ini lanjutnya disebabkan oleh banyaknya informasi maupun gerakan sosial yang menyadarkan publik untuk mewaspadai dan mencegah diri menjadi kaki tangan informasi bohong (hoaks).
"Ini bisa jadi faktor pendorong. Lalu apa yang harus dilakukan media konvensional? Ketika menyajikan informasinya melalui medium digital, aspek kualitas pada medium konvensional harus tetap ditegakkan. Tetap cepat namun bukan sekedar mengejar click byte," cetusnya.
Namun media konvensional harus mampu memenuhi tuntutan perkembangan teknologi untuk bergerak dari monotext ke multitext, dari mono language ke multilanguage.
"Artinya media konvensional harus tetap go online, namun tetap.menjaga kualitas informasi," tandasnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam peringatan hari pers nasional di Surabaya, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa 63% Masyarakat lebih memercayai informasi yang disajikan media konvensional atau media arus utama daripada media sosial. Prosentase ini didapat Jokowi dari survei Edelman Trust Barometer Media.(OL-7)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved