Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Luna Maya kembali debut menjadi sutradara dalam series keluaran maxtream. Partisipasinya dalam CKCKCK First Series adalah debutnya dalam menyutradarai sebuah series pendek.
Bagi Luna, menjadi sutradara mempunyai kesan tersendiri. Seluruh gerak gerik pemain, alur dan setting up selalu ia atur dengan sedemikian rupa. Sebelumnya, Luna sudah pernah menyutradarai film panjang.
Luna mengaku sangat detail saat menjadi sutradara, karena ia ingin membuat series garapannya ini menjadi perfect tanpa celah sedikitpun. "Pokoknya kalau salah dikit, cut, ulang," ujar Luna Maya di di CGV Mall Grand Indonesia, Selasa (30/1).
Baca juga : Luna Maya Ungkap Pengalaman Syuting Suzzanna Malam Jumat Kliwon
Sebetulnya alasan Luna ikut berpartisipasi dalam series ini berawal dari ajakan Greg Soegono. Greg Soegono adalah seorang sutradara sekaligus penulis naskah terkenal di Indonesia.
"Waktu itu di chat Greg, kirain mau diajak main film taunya diajak buat jadi sutradara," Ungkap Luna Maya
Baca juga: Luna Maya Sebut Hidup Sehat Adalah Komitmen Seumur Hidup
"Terus abis itu di kasih enam judul, disuruh pilih, dan akhirnya saya cocok sama Cari Kagak. Episode enam ini sangat menarik perhatian gue," tambahnya
Diketahui CKCKCK First Series ini adalah series antologi yang mempunyai enam episode dalam satu judul. Pada kesempatan kali ini, Luna Maya menjadi sutradara pada episode keenam di CKCKCK First Series. Selain Luna Maya, adapun Greg Soegono, Rahabi Mandra, dan Emil Heradi yang menjadi sutradara dalam tiap episodenya.
Enam episode ini mempunyai durasi sekitar 40-45 menit setiap episodenya, dengan rating 17 sampai 21+. Meskipun setiap judulnya berbeda-beda namun, masih terdapat benang merah yang menjadi penyambung dari tiap episode yang ada.
Pada episode enam yang digarap Luna Maya ini, menceritakan tentang (Yudo) yang diperankan oleh Wafda yang mempunyai sikap temperamen akibat dari rasa trauma di masa lalunya, kemudian (Nala) yang diperankan oleh Carissa merupakan kekasih Yudo.
Hubungan toxic membuatnya sama-sama menyakiti diri mereka, hingga akhirnya hubungan tersebut hanya berisi perseteruan, pertengkaran yang tiada akhirnya. Lantas bagaimanakah kelanjutannya? Simak keseluruhan episodenya di Maxtream.
Series ini akan tayang pada Rabu, 31 Januari 2024 di aplikasi Maxtream. Dan akan ada episode baru setiap minggunya. (Z-4)
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkap film Para Perasuk bukan genre horor, melainkan drama obsesi manusia. Simak jadwal tayang dan daftar pemainnya.
Sutradara Joko Anwar ungkap alasan pilih warna kuning untuk baju tahanan di film Ghost in the Cell sebagai simbol harapan di tengah dunia yang kelam.
Joko Anwar ungkap makna mendalam poster Ghost in the Cell. Visual lubang jadi metafora sistem sosial busuk dan harapan di tengah kengerian.
Sutradara Joko Anwar menekankan pentingnya cerita otentik yang relevan dengan keresahan masyarakat sebagai fondasi utama kemajuan industri film Indonesia.
Berlatar di sebuah apartemen mewah di New York City, film They Will Kill You mengikuti kisah Asia (Zazie Beetz), seorang mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Luna Maya sebut kekuatan film Zona Merah ada pada karakter yang engaging. Simak pandangan sang produser eksekutif mengenai film zombie terbaru ini.
Luna Maya terlibat sebagai produser eksekutif sekaligus pemeran dalam film Zona Merah, film zombie pertama Indonesia yang tayang di bioskop.
Kesuksesan ini juga jadi bukti bahwa legacy sang Ratu Horor Indonesia, Suzzanna, masih tetap hidup dan dicintai oleh masyarakat Indonesia.
Setelah sebelumnya sukses membintangi Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) dan Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023), Luna mengaku pengalamannya dalam mendalami karakter terus berkembang.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Pengalaman bertaruh nyawa tersebut terjadi saat Luna Maya melakoni adegan di sebuah sungai yang memiliki arus cukup deras di kawasan Pangandaran, Jawa Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved