Makna Warna Kuning Baju Tahanan di Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar

Basuki Eka Purnama
10/4/2026 14:55
Makna Warna Kuning Baju Tahanan di Film Ghost in the Cell Karya Joko Anwar
Sutradara Joko Anwar (kiri) bersama pemeran film menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers tentang film horor komedi "Ghost in The Cell" di Jakarta, Kamis (9/4/2026).(ANTARA/Asprilla Dwi Adha)

SUTRADARA Joko Anwar kembali memberikan sentuhan filosofis dalam karya terbarunya yang bertajuk Ghost in the Cell. Salah satu detail yang mencuri perhatian adalah pemilihan warna kuning untuk seragam tahanan dalam film tersebut, yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026.

Dalam sesi wawancara seusai pemutaran film di Jakarta, Kamis (9/4/2026), Joko menjelaskan bahwa pemilihan warna kuning bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, warna tersebut merepresentasikan "monster" sekaligus menjadi simbol kontras di tengah atmosfer cerita yang suram.

"Sebenarnya ini lebih ke monster. Lebih ke monster, ya kuning lah. Warna ini memberikan semacam harapan bagi dunia yang begitu kelam (dalam film)," ujar Joko Anwar kepada awak media.

Pertimbangan Estetika dan Simbolisme Warna

Sebelum menetapkan pilihan pada warna kuning, Joko mengungkapkan bahwa tim produksi sempat mempertimbangkan beberapa opsi warna lain, seperti biru dan hijau. Namun, kedua warna tersebut dinilai terlalu memberikan kesan tenang, yang dianggap kurang selaras dengan visi artistik film ini.

"Biru warna yang sangat menenangkan, kami enggak jadi pilih. Terus kami juga ada pilihan warna hijau. Hijau juga sangat menenangkan, walaupun banyak orang bilang bahwa hijau adalah warna korupsi dalam bahasa film," jelasnya lebih lanjut.

Berikut adalah perbandingan makna warna yang sempat dipertimbangkan oleh tim produksi Ghost in the Cell:

Warna Makna/Alasan Penolakan Status
Kuning Simbol monster dan secercah harapan di dunia kelam. Dipilih
Biru Terlalu menenangkan untuk atmosfer film. Ditolak
Hijau Menenangkan; sering diasosiasikan dengan korupsi dalam sinema. Ditolak

Metafora Penjara dan Kritik Sosial

Film Ghost in the Cell dikembangkan oleh Joko Anwar dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni dari 2018 hingga 2025. Cerita ini lahir dari hasil pengamatannya terhadap berbagai fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Joko menggunakan latar penjara sebagai metafora kuat untuk menggambarkan keterbatasan ruang gerak warga dalam sebuah sistem. Ia ingin memperlihatkan bagaimana sistem dapat membuat individu tidak menyadari realitas yang sebenarnya terjadi di luar kendali mereka.

Meski mengusung tema yang berat, Joko tetap menyisipkan pesan optimisme. Ia menekankan pentingnya menjaga harapan, sekecil apa pun itu.

"Kita mungkin bisa putus asa, tapi enggak boleh putus asa 100 persen. Karena apa? Pasti ada 10 persen yang masih punya harapan dan memberikan kontribusi positif bagi masa depan," pungkasnya. (Ant/Z-1)

Informasi Film:
  • Judul: Ghost in the Cell
  • Sutradara: Joko Anwar
  • Masa Pengembangan: 2018 - 2025
  • Tanggal Rilis: 16 April 2026



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya