Joko Anwar Sebut Cerita Otentik dan Relevansi Masyarakat Kunci Kekuatan Film Indonesia

Basuki Eka Purnama
06/4/2026 18:09
Joko Anwar Sebut Cerita Otentik dan Relevansi Masyarakat Kunci Kekuatan Film Indonesia
Sutradara Joko Anwar(ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman)

SUTRADARA kenamaan Joko Anwar menegaskan bahwa kekuatan utama film Indonesia terletak pada narasi yang otentik dan relevan dengan kehidupan masyarakat. 

Joko merujuk pada sejarah perfilman nasional, ketikatokoh legendaris Usmar Ismail telah meletakkan fondasi penting sejak tahun 1950-an. Menurutnya, keberhasilan film Indonesia selalu bermula dari kekuatan bercerita yang mampu menyentuh keresahan nyata masyarakat.

"Tahun '50 Bapak Usmar Ismail membuktikan bahwa film Indonesia hanya akan bisa dimulai dari kekuatan bercerita yang relevan dengan masyarakat di Indonesia," ujar Joko Anwar, dikutip Senin (6/4).

Menggali Potensi Budaya dan Keresahan Sosial

Indonesia, dengan keberagaman etnik dan suku, dinilai memiliki gudang cerita yang tidak terbatas. Joko menyoroti bahwa kekayaan ini mencakup berbagai genre, termasuk horor yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama. Namun, ia mendorong para sineas untuk lebih berani mengangkat isu-isu yang mencerminkan kondisi riil bangsa.

"Please bikin film yang otentik Indonesia, tentang hal-hal yang menjadi keresahan kita sebagai masyarakat Indonesia," tegasnya.

Ia optimistis Indonesia mampu mengikuti jejak Korea Selatan dalam mengembangkan industri film hingga dikenal di kancah global. Dengan populasi lebih dari 284 juta jiwa, Indonesia memiliki modal pasar yang sangat besar untuk memperkuat ekosistem perfilman domestik.

Data Statistik Industri Film Indonesia (Tahun Lalu)

Indikator Capaian
Jumlah Penjualan Tiket 84 Juta Tiket
Estimasi Pendapatan Tiket Mata Uang Rupiah 3,7 Triliun
Total Populasi Indonesia > 284 Juta Jiwa

Penguatan Ekosistem dan Sensor Mandiri

Selain kualitas cerita, Joko juga mengapresiasi kehadiran berbagai festival film seperti Jakarta Film Week dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Menurutnya, ajang-ajang seperti ini menjadi katalisator yang membuat ekosistem perfilman nasional semakin solid.

Sejalan dengan semangat perayaan Hari Film Nasional 2026, Lembaga Sensor Film (LSF) turut mengambil peran dengan mengampanyekan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNSM). Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tontonan sekaligus mengedukasi masyarakat dalam memilah konten.

Ketua LSF, Naswardi, menyatakan bahwa momentum ini harus dimaknai sebagai upaya kolektif untuk meningkatkan derajat perfilman nasional. "Perayaan Hari Film Nasional dimaknai sebagai upaya untuk terus meningkatkan prestasi dan derajat perfilman nasional baik di tingkat regional, nasional, maupun global," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya