Makna Filosofis Poster Ghost in the Cell Joko Anwar Lawan Trypophobia

Basuki Eka Purnama
10/4/2026 11:10
Makna Filosofis Poster Ghost in the Cell Joko Anwar Lawan Trypophobia
Sutradara Joko Anwar saat konferensi pers seusai pemutaran pratayang film "Ghost in the Cell" di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (9/4/2026).(ANTARA/Abdu Faisal)

SUTRADARA Joko Anwar kembali menggebrak industri layar lebar melalui karya terbarunya bertajuk Ghost in the Cell. Namun, ada cerita unik sekaligus mendalam di balik visual poster film tersebut yang menampilkan banyak lubang. Joko mengaku harus melawan ketakutan pribadinya, yakni fobia terhadap lubang atau trypophobia, demi menyampaikan pesan filosofis yang kuat.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/4), Joko mengungkapkan bahwa dirinya dan produser Tia Hasibuan dari Come and See Pictures merupakan pengidap trypophobia akut. Meski merasa ngeri, ia sengaja memilih visual tersebut sebagai bentuk konfrontasi terhadap rasa takut sekaligus metafora atas kondisi sosial saat ini.

Metafora Sistem Sosial yang Busuk

Visual lubang-lubang pada tubuh karakter hantu dalam poster tersebut bukan sekadar elemen estetika horor. Menurut Joko, lubang-lubang itu merepresentasikan sistem sosial yang telah membusuk. Rasa jijik yang muncul saat audiens melihat poster tersebut diharapkan menjadi refleksi dari kejenuhan masyarakat terhadap sistem yang ada.

"Hantu ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu atau ancaman kalau kita tidak paham. Kalau merasa jijik dengan itu, kita sebenarnya jijik pada keadaan di dalamnya," jelas Joko Anwar.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lubang tersebut tidaklah kosong. Di dalamnya terdapat karakter-karakter yang terpenjara oleh sistem tertentu tanpa mereka sadari. Hal ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam struktur sosial yang merusak tanpa melihatnya sebagai sebuah ancaman nyata.

Simbol Harapan di Tengah Kengerian

Menariknya, Joko Anwar menyelipkan sisi keindahan di balik kengerian tersebut. Untuk menghadapi fobianya, ia membayangkan setiap lubang pada tubuh karakter mengeluarkan bunga seroja atau tumbuhan (plants). Tumbuhan ini menjadi simbol harapan (hope) yang tumbuh di tengah situasi yang mencekam.

Film ini juga memosisikan sosok hantu bukan sebagai entitas mistik semata, melainkan representasi dari sisi terburuk manusia yang muncul saat kehilangan harapan atau terjerat dalam praktik korupsi. Melalui Ghost in the Cell, Joko mengajak penonton untuk melihat realitas sosial dan menjadikan film sebagai sarana menyuarakan keresahan kolektif.

Informasi Film Detail
Judul Film Ghost in the Cell
Sutradara Joko Anwar
Produser / Produksi Tia Hasibuan / Come and See Pictures
Tema Visual Utama Trypophobia (Lubang-lubang metaforis)
Simbolisme Tumbuhan Harapan (Hope) di tengah kebusukan sistem
Tanggal Tayang 16 April (Seluruh bioskop Indonesia)

Bagi para pecinta sinema yang ingin merasakan pengalaman horor psikologis dengan kedalaman makna sosial, Ghost in the Cell dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 16 April mendatang. (Ant/Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya