Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Joko Anwar kembali menggebrak industri layar lebar melalui karya terbarunya bertajuk Ghost in the Cell. Namun, ada cerita unik sekaligus mendalam di balik visual poster film tersebut yang menampilkan banyak lubang. Joko mengaku harus melawan ketakutan pribadinya, yakni fobia terhadap lubang atau trypophobia, demi menyampaikan pesan filosofis yang kuat.
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/4), Joko mengungkapkan bahwa dirinya dan produser Tia Hasibuan dari Come and See Pictures merupakan pengidap trypophobia akut. Meski merasa ngeri, ia sengaja memilih visual tersebut sebagai bentuk konfrontasi terhadap rasa takut sekaligus metafora atas kondisi sosial saat ini.
Visual lubang-lubang pada tubuh karakter hantu dalam poster tersebut bukan sekadar elemen estetika horor. Menurut Joko, lubang-lubang itu merepresentasikan sistem sosial yang telah membusuk. Rasa jijik yang muncul saat audiens melihat poster tersebut diharapkan menjadi refleksi dari kejenuhan masyarakat terhadap sistem yang ada.
"Hantu ini sebenarnya mewakili sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai hantu atau ancaman kalau kita tidak paham. Kalau merasa jijik dengan itu, kita sebenarnya jijik pada keadaan di dalamnya," jelas Joko Anwar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lubang tersebut tidaklah kosong. Di dalamnya terdapat karakter-karakter yang terpenjara oleh sistem tertentu tanpa mereka sadari. Hal ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam struktur sosial yang merusak tanpa melihatnya sebagai sebuah ancaman nyata.
Menariknya, Joko Anwar menyelipkan sisi keindahan di balik kengerian tersebut. Untuk menghadapi fobianya, ia membayangkan setiap lubang pada tubuh karakter mengeluarkan bunga seroja atau tumbuhan (plants). Tumbuhan ini menjadi simbol harapan (hope) yang tumbuh di tengah situasi yang mencekam.
Film ini juga memosisikan sosok hantu bukan sebagai entitas mistik semata, melainkan representasi dari sisi terburuk manusia yang muncul saat kehilangan harapan atau terjerat dalam praktik korupsi. Melalui Ghost in the Cell, Joko mengajak penonton untuk melihat realitas sosial dan menjadikan film sebagai sarana menyuarakan keresahan kolektif.
| Informasi Film | Detail |
|---|---|
| Judul Film | Ghost in the Cell |
| Sutradara | Joko Anwar |
| Produser / Produksi | Tia Hasibuan / Come and See Pictures |
| Tema Visual Utama | Trypophobia (Lubang-lubang metaforis) |
| Simbolisme Tumbuhan | Harapan (Hope) di tengah kebusukan sistem |
| Tanggal Tayang | 16 April (Seluruh bioskop Indonesia) |
Bagi para pecinta sinema yang ingin merasakan pengalaman horor psikologis dengan kedalaman makna sosial, Ghost in the Cell dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 16 April mendatang. (Ant/Z-1)
Sutradara Joko Anwar mencetak rekor baru sebagai satu-satunya sineas Indonesia yang berhasil mengantarkan tujuh film berturut-turut melewati angka 1 juta penonton.
Sutradara Joko Anwar ungkap alasan pilih warna kuning untuk baju tahanan di film Ghost in the Cell sebagai simbol harapan di tengah dunia yang kelam.
Sutradara Joko Anwar menekankan pentingnya cerita otentik yang relevan dengan keresahan masyarakat sebagai fondasi utama kemajuan industri film Indonesia.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkap film Para Perasuk bukan genre horor, melainkan drama obsesi manusia. Simak jadwal tayang dan daftar pemainnya.
Berlatar di sebuah apartemen mewah di New York City, film They Will Kill You mengikuti kisah Asia (Zazie Beetz), seorang mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved