AI Diproyeksi Jadi Infrastruktur Terpenting bagi Pertumbuhan Ekonomi

Ihfa Firdausya
15/4/2026 12:59
AI Diproyeksi Jadi Infrastruktur Terpenting bagi Pertumbuhan Ekonomi
IDE Katadata Future Forum(MI/Ihfa Firdausya)

Ekonomi di masa depan diyakini akan didominasi oleh ekonomi digital. Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pun digadang-gadang akan menjadi infrastruktur terpenting untuk pertumbuhan ekonomi. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah dalam acara IDE Katadata Future Forum, Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).

Edwin menyampaikan analisis PwC bahwa teknologi AI dapat berkontribusi hingga US$15,7 triliun bagi ekonomi global pada 2030.

"Dari US$15,7 triliun itu, sekitar 15%-20% nanti itu akan di-generate oleh AI. Artinya AI akan menjadi kekuatan yang luar biasa, main infrastructure dalam pertumbuhan ekonomi," paparnya.

Sementara itu, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai US$360 miliar (sekitar Rp5.500 triliun - Rp5.800 triliun) pada 2030. Pertumbuhan pesat tersebut juga akan didorong oleh adopsi AI, digitalisasi sektor keuangan, serta e-commerce.

Mengutip survei Universitas Stanford, Edwin menyebut bahwa 80% orang Indonesia punya pandangan optimistis terhadap AI. "Sebagian besar orang di Jakarta sudah menggunakan AI paling tidak 2-3 kali seminggu walaupun hanya untuk main-main di ChatGPT atau yang lainnya," ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi strategis dalam tata kelola AI dimulai dengan program Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045 dan beberapa perundangan.

"Jadi kita punya fondasinya itu mulai dari talent development, infrastructure development, governance policy, research and innovation, dan pembiayaan," jelasnya.

Edwin menyebut ada 4 pilar penting dalam pengembangan ekosistem AI. Pertama, kerja sama antara regulator dan pemerintah. Kedua, apengembangan inovasi. Ketiga, peningkatan kapabilitas dalam talent development.

"Kita punya AI talent factory. Komdigi terutama sudah bekerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia. Kita juga punya yang namanya Garuda Spark Innovation Hub, kita juga membuat pelatihan AI tidak hanya di perkotaan tapi juga untuk pertanian," paparnya.

"Pilar terakhir adalah risk mitigation. Ini merupakan bagian penting yang kita jalankan. Nanti akan dibahas juga di perpres mengenai konsep pedoman etika kecerdasan artificial," pungkasnya.

Dalam salah satu sesi diskusi, Associate Partner, McKinsey & Company Antonius Santoso menyinggung permasalahan menurunnya kelas menengah di Indonesia. AI, katanya, pada akhirnya, bisa menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas.

"Jika Anda melihat perekonomian Indonesia selama 20 tahun terakhir, kita berada pada pertumbuhan PDB tahunan sebesar 4,9%. Agar kita dapat melompat ke negara berpenghasilan tinggi, AI sebenarnya adalah alat yang akan membantu negara kita tumbuh jauh lebih cepat, melampaui 5%. Mudah-mudahan mencapai 8%," kata Antonius.

Sayangnya, lanjut dia, selama 20 tahun terakhir, kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% sebagian besar berasal dari ledakan populasi.

"Pada tahun 2000, usia rata-rata penduduk negara kita hanya 28 tahun. Sekarang kita sudah 31 tahun. Jadi kita tidak bisa terus memanfaatkan pertumbuhan populasi dan demografi lapangan kerja yang memasuki pasar," ujar Antonius.

"Oleh karena itu, AI akan membantu meningkatkan produktivitas yang paling dibutuhkan oleh negara ini. Semoga kita bisa memperoleh pendapatan yang tinggi di masa depan," pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya