Ekonomi NTT Tumbuh 5,14 Persen, 2026 Tetap Optimistis

Palce Amalo
23/4/2026 15:18
Ekonomi NTT Tumbuh 5,14 Persen, 2026 Tetap Optimistis
Flobamorat Business and Economic Forum 2026 di Kupang, Kamis (24/4/2026)(MI/Palce Amalo)

PEREKONOMIAN Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2025 tumbuh 5,14% (year-on-year), melampaui rata-rata nasional sebesar 5,1%. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, mengatakan capaian tersebut ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, serta administrasi pemerintahan yang menunjukkan kinerja positif.

“Perbaikan kinerja sektor-sektor utama mendorong peningkatan produksi dan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai wilayah,” ujarnya saat menjadi Keynote Speaker pada Flobamorat Business and Economic Forum 2026 di Kupang, Kamis (24/4).

Menurutnya secara sektoral, pertanian tumbuh 3,50% dengan kontribusi terbesar 28,58%. Sektor perdagangan tumbuh 10,92%, administrasi pemerintahan 6,99%, serta akomodasi dan makan minum 9,97%, sedangkan sektor konstruksi mengalami kontraksi tipis sebesar -0,46%.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 4,84% dan kontribusi 68,6%. Konsumsi pemerintah tumbuh 2,75% dan net ekspor meningkat 4,22%, sementara investasi (PMTB) mengalami kontraksi -0,39%. Memasuki 2026, Adidoyo menyebut tantangan ekonomi semakin kompleks akibat tekanan global, termasuk konflik geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas serta memengaruhi stabilitas ekonomi daerah.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi NTT diperkirakan tetap berada di kisaran 4,94 hingga 5,54%. Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan capaian tersebut berdampak pada perbaikan indikator kesejahteraan.

“Pertumbuhan ekonomi meningkat, sementara angka kemiskinan menurun dari 19,10% menjadi 17,50%. Ini menunjukkan arah pembangunan kita berada di jalur yang tepat,” kata Melki.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus mendorong penguatan sektor unggulan berbasis potensi daerah serta memperkuat hilirisasi dan pengembangan ekonomi berbasis kawasan.

Di sisi potensi, komoditas unggulan seperti rumput laut, jambu mete, dan kopi menjadi penopang ekonomi daerah. Namun, sejumlah risiko seperti potensi El Nino, tekanan fiskal, dan investasi yang belum pulih tetap perlu diantisipasi guna menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

Flobamorat Business and Economic Forum 2026 menghadirkan ekonom Thomas Ola Langoday, Koordinator Kelompok Riset Ekonomi Sirkular BRIN, Didit Okta Pribadi dan Ketua Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM, Amirullah Setya Hardi. (PO/E-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya