Menkeu: Indonesia dalam Mode Survival Ekonomi

Insi Nantika Jelita
22/4/2026 14:32
Menkeu: Indonesia dalam Mode Survival Ekonomi
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.(Antara)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah saat ini menjalankan strategi ekonomi dalam “mode bertahan (survival mode) di tengah ketidakpastian global. Dalam kondisi tersebut, seluruh sumber daya negara akan dioptimalkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan maksimal, tidak lagi dengan pendekatan standar atau business as usual

“Saya mau jelaskan, di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, jadi bukan business as usual," ujarnya dalam Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) bertajuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi melalui Pembangunan Infrastruktur di Jakarta, Rabu (22/4).

Menurut Purbaya, pemerintah juga melakukan pembenahan menyeluruh dalam tata kelola, termasuk memastikan pengelolaan sumber daya alam memberikan imbal hasil optimal bagi negara. Langkah ini menjadi keseriusan pemerintah agar potensi besar yang dimiliki Indonesia tidak terbuang sia-sia tanpa manfaat maksimal bagi perekonomian nasional.

"Saya tekankan di sini, kita dalam mode survival. Semua harus dijalankan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi main-main," tegasnya. 

Ia menjelaskan, arah kebijakan Presiden mencakup sejumlah program prioritas, terutama pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan energi, dan pengembangan ekonomi daerah. Selain itu, pemerintah juga mendorong realokasi anggaran serta industrial upgrading guna meningkatkan nilai tambah industri, termasuk melalui pengembangan sektor kimia dan hilirisasi berbasis ekspor.

Dalam konteks ketahanan energi, pemerintah berupaya memperluas sumber pasokan agar tidak bergantung pada satu atau dua titik saja. Diversifikasi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah risiko gangguan global. 

“Kalau ini semua jalan, investasi masuk, lapangan kerja juga akan terbuka,” kata bendahara negara. 

Dari sisi fundamental, ia menilai ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Stabilitas fiskal, kredibilitas kebijakan, serta besarnya kontribusi permintaan domestik menjadi penopang utama. 

Ia menuturkan sekitar 90% perekonomian nasional digerakkan oleh konsumsi dalam negeri, sehingga menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci. Ia mencontohkan pada krisis global 2009, Indonesia masih mampu tumbuh 4,6 persen saat banyak negara terkontraksi.

“Jadi, Indonesia sebetulnya jago. Cuma, kurang berani mengakui kejagoannya,” ujarnya.

Purbaya optimistis, dengan kebijakan yang tepat dan konsisten, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melampaui 5%. Ia menilai capaian pertumbuhan sebelumnya yang sempat mencapai 5,39% serta defisit fiskal yang terjaga di kisaran 2,8% menunjukkan ruang perbaikan masih terbuka.

Di tengah kondisi global yang masih dibayangi konflik geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan suku bunga tinggi dalam waktu lama (higher for longer), Indonesia dinilai tetap memiliki prospek positif. 

Ia menambahkan, dengan inflasi yang tetap terkendali dan defisit APBN dijaga sekitar 3% terhadap PDB, fondasi ekonomi nasional masih solid. Dengan upaya percepatan reformasi dan penguatan sektor produktif, pertumbuhan bahkan berpotensi didorong menuju level yang lebih tinggi.

“Jadi, ke depan harusnya (ekonomi) kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 5%,” pungkasnya. (Ins)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya