Israel-AS Serang Iran Jatuhkan Pertumbuhan Ekonomi Global dan Indonesia

Naufal Zuhdi
12/4/2026 08:51
Israel-AS Serang Iran Jatuhkan Pertumbuhan Ekonomi Global dan Indonesia
Sejumlah pekerja membongkar tandan buah segar kelapa sawit dari atas mobil sebelum dimasak di salah satu pabrik minyak kelapa sawit, beberapa waktu lalu.(Antara/Akbar Tado)

KETEGANGAN geopolitik yang melibatkan Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CoRE), Mohammad Faisal, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di banyak negara akan mengalami koreksi yang lebih dalam dibandingkan prediksi sebelumnya jika tensi ini terus berlanjut.

Pemicu Inflasi dan Gangguan Rantai Pasok Global

Menurut Faisal, kondisi konflik bersenjata ini secara langsung memicu kenaikan inflasi global. Hal ini disebabkan oleh terganggunya rantai pasok dunia yang berujung pada hambatan sistem perdagangan internasional.

"Karena kondisi perang ini meningkatkan inflasi global dan mengganggu rantai pasok dan juga berarti mengganggu sistem perdagangan sehingga volume perdagangan terganggu. Kemudian harga barang-barang yang diperdagangkan itu juga jadi lebih mahal dan juga mengganggu iklim investasi dari sisi stabilitas keamanannya," ujar Faisal saat dihubungi, Minggu (12/4/2026).

Dampak Terhadap Daya Beli dan Produksi

Kenaikan harga barang di tingkat global dipastikan akan berimplikasi pada penurunan daya beli dan konsumsi masyarakat. Fenomena ini menciptakan efek domino yang merugikan sektor riil:

  • Penurunan Konsumsi: Masyarakat cenderung menahan belanja akibat harga yang melambung.
  • Pengurangan Produksi: Produsen akan mengurangi volume produksi seiring dengan menurunnya permintaan pasar.
  • Koreksi Pertumbuhan: Akumulasi dari faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, termasuk Indonesia.

Proyeksi Ekonomi Indonesia

CoRE sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%. Namun, dengan adanya eskalasi geopolitik ini, angka tersebut terancam terkoreksi ke batas bawah.

"Kemungkinan (pertumbuhan ekonomi) akan berada di batas bawah 4,9%, di bawah 5%. Bahkan kalau konflik berlangsung lebih panjang lagi, ini bisa jatuh di bawah 4,9%," tandas Faisal.

Situasi ini menuntut kewaspadaan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam memitigasi dampak kenaikan harga komoditas impor dan menjaga iklim investasi agar tetap kondusif di tengah ketidakpastian global. (Fal/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya