Cadangan LPG Tembus 10 Hari, Pemerintah Pastikan Pasokan Stabil

 Gana Buana
08/4/2026 21:59
Cadangan LPG Tembus 10 Hari, Pemerintah Pastikan Pasokan Stabil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.(Dok. Fraksi Partai Golkar)

PEMERINTAH memastikan tekanan pasokan liquefied petroleum gas (LPG) nasional mulai mereda. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia kini memiliki cadangan LPG di atas 10 hari, menandai berakhirnya fase kritis pasokan yang sempat membayangi sejak awal bulan.

Usai Taklimat Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4), Bahlil menyebut masa sulit distribusi dan ketersediaan LPG telah berhasil dilewati sejak 4 April 2026. Menurut dia, tambahan pasokan dari sejumlah negara membuat stok dalam negeri kembali berada pada level aman.

“Sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari,” ujar Bahlil dilansir dari Antara, Rabu (8/2).

Ia menegaskan, ketersediaan LPG nasional saat ini tidak bergantung langsung pada dinamika di Selat Hormuz. Pemerintah, kata dia, telah mengamankan suplai dari beberapa sumber utama, termasuk Australia, Amerika Serikat, dan negara pemasok lainnya.

Bahlil memaparkan, komposisi impor LPG Indonesia saat ini masih didominasi Amerika Serikat dengan porsi sekitar 70-75 persen. Sementara sekitar 20 persen dipasok dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya berasal dari sejumlah negara lain, termasuk Australia.

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tengah berupaya meredam kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap kebutuhan energi domestik. Dengan cadangan yang mulai menebal, pemerintah ingin memberi pesan bahwa pasokan LPG untuk masyarakat tetap terkendali.

Di sisi lain, Bahlil juga menyinggung potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya untuk RON 92, RON 95, RON 98, serta solar Pertamina Dex. Namun, ia menekankan keputusan soal harga belum final karena masih dalam tahap penghitungan.

Menurut dia, pemerintah masih menunggu hasil kalkulasi dengan mempertimbangkan perkembangan Indonesian Crude Price (ICP). Jika tren harga minyak mentah Indonesia menurun, ruang penyesuaian harga dinilai akan semakin terbuka.

“Saat ini masih dilakukan penghitungan, mudah-mudahan harga ICP bisa turun. Itu akan jauh lebih baik,” katanya.

Sampai saat ini, lanjut Bahlil, pembahasan soal harga masih terus digodok bersama Pertamina dan pihak swasta. Artinya, belum ada keputusan resmi terkait perubahan harga BBM tersebut.

Terkait distribusi energi, Bahlil juga mengungkapkan masih ada dua kapal milik Pertamina yang belum bisa melintasi Selat Hormuz. Pemerintah kini terus menjalin komunikasi dengan pihak terkait agar jalur pengiriman dapat kembali normal.

Ia berharap jeda dua pekan dalam eskalasi konflik di Timur Tengah bisa membuka ruang penyelesaian, sehingga hambatan pelayaran tidak berlarut-larut dan rantai pasok energi tetap terjaga. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya