OJK Sebut Pasar Modal Tetap Resilien, Investor Bertambah 1,78 Juta pada Maret 2026

Ihfa Firdausya
06/4/2026 16:52
OJK Sebut Pasar Modal Tetap Resilien, Investor Bertambah 1,78 Juta pada Maret 2026
ilustrasi.(Antara)

DI tengah dinamika konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik tetap dapat dijaga dengan baik. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut jumlah investor di pasar modal dalam negeri terus mencatat peningkatan signifikan.

 

“Bertambah sebanyak 1,78 juta investor baru di bulan Maret 2026. Total jumlah investor kita sudah mencapai 24,74 juta atau telah tumbuh sebesar 21,51% year to date,” kata Hasan dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026, Senin (6/4).

Menurutnya, pasar modal dalam negeri terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Hingga akhir Maret 2026 secara year to date, nilai fundraising di korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp51,96 triliun. “Terdapat 53 rencana penawaran umum di dalam pipeline kami,” ungkap Hasan.

Untuk penggalangan dana melalui securities crowdfunding atau SCF pada Maret 2026, nilai dana yang dihimpun tercatat sebesar Rp18,07 miliar. Kemudian di pasar derivatif keuangan, volume transaksi mencapai 34.480 lot dengan frekuensi transaksi sebanyak 308.260 kali.

Sementara untuk kegiatan di bursa karbon total terdapat 153 pengguna jasa yang telah terdaftar. Adapun penambahan volume transaksi pada Maret 2026 tercatat sebesar 43.117 ton of carbon dioxide equivalent atau TCO2e dengan akumulasi nilai transaksi mencapai Rp93,71 miliar.

Terkait dampak dari dinamika global, kata Hasan, OJK terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan self-regulatory organization (SRO) dan seluruh pelaku usaha dalam upaya untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.

“Pendalaman pasar modal juga terus diperkuat. Di sisi supply, pengembangan produk investasi berupa ETF Emas telah didukung dengan penerbitan regulasi yang baru yaitu POJK nomor 2 tahun 2026,” ujarnya.

“Sementara di sisi permintaan kami melakukan inisiatif yang kita namakan Pintar Reksadana atau Program Investasi Terencana dan Berkala untuk instrumen Reksadana yang ini juga dikenal sebagai Sistematik Investment Plan atau SIP,” imbuhnya

Hasan menyampaikan, pasar saham domestik menunjukkan pergerakan yang dinamis pada Maret 2026 sebagaimana juga dialami oleh bursa global dan regional lainnya. Hal itu sebagai dampak terjadinya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan juga diikuti dengan lonjakan harga-harga komoditas energi di dunia.

IHSG pada akhir Maret tercatat ditutup di level 7.048,22 atau terkoreksi sebesar 14,42% m-to-m. Investor asing tercatat membukukan net sell di pasar saham senilai Rp23,34 triliun m-to-m.

“Lonjakan jual oleh investor asing disebabkan adanya transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham di bursa efek,” ujarnya.

Sementara di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index atau ICBI ditutup pada level 433,16, terkoreksi sebesar 2,03% m-to-m atau 1,74% year to date, seiring peningkatan persepsi risiko akibat terjadinya ketidakpastian global. Investor non-residen membukukan net sell di pasar SBN sebesar Rp21,80 triliun m-to-m.

“Adapun pada industri pengelolaan investasi ini juga bergerak searah dengan tren pasar di bulan Maret 2026. Namun dengan penurunan yang cenderung lebih moderat. NAB (nilai aktiva bersih) untuk reksadana tercatat sebesar Rp695,71 triliun. Terkoreksi sebesar 2,51% m-to-m. Namun masih tumbuh positif sebesar 3,02% year to date,” papar Hasan.

Ia meneyrbut terjaganya kinerja NAB ini ditopang oleh adanya net subscription secara year to date yang signifikan yaitu sebesar Rp29,12 triliun. (Ifa/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya