Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN geopolitik antara Iran dan Israel dinilai berisiko memicu lonjakan harga minyak global. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengingatkan bahwa eskalasi konflik dapat memberikan tekanan signifikan terhadap pasar energi dunia.
Faisal menjelaskan saat ini harga minyak berada di kisaran US$70 per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke US$80 per barel.
Ia menambahkan, risiko terbesar terjadi apabila jalur distribusi energi di Selat Hormuz terganggu. Kawasan ini merupakan rute vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak global. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi mendorong harga minyak mentah melonjak tajam hingga melampaui US$100 per barel.
"Kalau sudah sampai US$100 per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina," katanya, Minggu (1/3).
Menurut Faisal, konflik bersenjata antara Iran dan Israel juga berpotensi meluas menjadi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat. Dukungan dari Tiongkok serta negara-negara lain yang berada di belakang Iran dinilai dapat memperpanjang ketegangan.
"Ada kemungkinan perang ini berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan," ujarnya.
Dampak terhadap Indonesia pun dinilai tak terhindarkan. Faisal menyebut kenaikan harga minyak dunia akan langsung memengaruhi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, terutama untuk BBM nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar internasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa potensi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar menjadi perhatian utama, mengingat produk tersebut banyak digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya," kata Faisal.
Di sisi lain, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar dan menimbulkan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melepaskan serangan rudal ke wilayah Israel serta menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Media resmi Iran melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat tersebut.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran menyusul konfirmasi syahidnya Khamenei.
Perkembangan konflik Iran-Israel ini terus menjadi perhatian pasar global, terutama karena dampaknya terhadap harga minyak dunia, inflasi, serta stabilitas ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia. (Ant/E-4)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
DEPUTI Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan inflasi global diperkirakan naik dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen akibat dampak perang AS-Israel dengan Iran.
MENGHADAPI gejolak global yang mengancam ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), pemerintah mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional.
KRISIS energi akibat eskalasi perang di Timur Tengah memukul negara-negara besar di Asia. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyerukan kampanye hemat energi nasional akibat perang Iran
Pentagon ajukan dana Rp3.386 triliun untuk perang melawan Iran. Simak rincian biaya militer AS yang membengkak hingga dampak penutupan Selat Hormuz di sini.
PERAN Iran versus Israel dan Amerika akan memberi dampak besar bagi Indonesia. Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Probo Darono Yakti menjelaskan
ANGGOTA Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Golkar Gandung Pardiman mendorong Pemerintah agar mengantisipasi terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved