Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal. Kondisi itu belum dapat dibaca sebagai sinyal pemulihan menyeluruh pada investasi dan permintaan domestik. Demikian disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.
Sepanjang Januari-Desember 2025, ekspor Indonesia tercatat meningkat menjadi US$282,91 miliar, sementara impor mencapai US$241,86 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar US$41,05 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja sektor nonmigas, sementara neraca migas masih mengalami defisit.
“Ini menunjukkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih sangat bergantung pada kinerja nonmigas. Surplus yang besar belum tentu mencerminkan pemulihan permintaan domestik secara penuh,” ujar, Josua Pardede saat dihubungi, Senin (2/2).
Dari sisi investasi, Josua menilai sinyal pemulihan justru terlihat lebih jelas dari struktur impor. Sepanjang 2025, impor barang modal melonjak 20,06% secara tahunan menjadi sekitar US$50,13 miliar. Kenaikan ini umumnya terjadi ketika proyek-proyek investasi, pembelian mesin, perluasan kapasitas, dan pembangunan fasilitas produksi mulai berjalan lebih kuat.
Kondisi tersebut, lanjut Josua, sejalan dengan realisasi investasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% dan melampaui target pemerintah. Kontribusi hilirisasi juga tercatat meningkat signifikan.
“Dengan lonjakan impor barang modal dan realisasi investasi yang melampaui target, ada dasar yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa investasi memang membaik,” imbuhnya.
Namun, Josua melihat bahwa gambaran pemulihan permintaan domestik dinilai masih bersifat campuran. Pasalnya, impor bahan baku atau penolong serta barang konsumsi justru mengalami penurunan tipis secara tahunan. Hal ini menjadi bukti pemulihan konsumsi rumah tangga dan siklus produksi belum merata di seluruh sektor ekonomi.
Meski demikian, pada level bulanan, impor sempat tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sehingga surplus perdagangan bulanan menyempit. Menurut Josua, pola ini lazim muncul ketika aktivitas ekonomi domestik mulai menguat secara bertahap.
Indikator aktivitas industri juga menunjukkan bahwa dorongan permintaan saat ini lebih banyak berasal dari pasar domestik. Pesanan baru tercatat membaik terutama dari dalam negeri, sementara pesanan ekspor masih relatif lemah.
“Artinya, penguatan permintaan domestik sudah mulai terlihat, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan,” jelasnya.
Josua menegaskan, surplus perdagangan sepanjang 2025 paling aman dibaca sebagai kombinasi antara ekspor yang masih ditopang komoditas tertentu dan mulai pulihnya investasi yang tercermin dari lonjakan impor barang modal. Ke depan, jika pemulihan permintaan domestik semakin kuat dan meluas, impor berpotensi tumbuh lebih cepat sehingga surplus perdagangan cenderung menyempit.
“Ukuran pemulihan yang lebih akurat bukan hanya besarnya surplus, melainkan konsistensi kenaikan impor barang modal dan bahan baku, serta perbaikan indikator aktivitas usaha,” pungkasnya. (Fal)
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Danantara tengah menggarap proyek-proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai US$26 miliar atau setara Rp450,42 triliun (kurs Rp17.324 per dolar AS).
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor hilirisasi menjadi kontributor signifikan dengan nilai investasi mencapai Rp147,5 triliun.
Pemerintah menyerap dana Rp40 triliun dari lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) dengan total penawaran masuk mencapai Rp74,95 triliun.
Upaya memperluas literasi dan inklusi pasar modal di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri.
Di tengah dinamika pasar keuangan, kolaborasi antara manajer investasi dan perbankan menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap instrumen investasi yang aman.
KBRI Warsawa gelar forum bisnis di Krakow dan Łódź untuk dorong investasi, perdagangan, dan kerja sama tenaga kerja Indonesia-Polandia jelang IEU-CEPA 2027.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved