Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH pembiayaan, terutama bagi industri manufaktur, merupakan isu lama yang urung ditemui solusinya hingga saat ini. Hal itu menjadi salah satu sebab devisa hasil ekspor (DHE) dari industri seolah enggan dipupuk di dalam negeri.
Periset dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tingginya biaya perbankan di Indonesia memicu seretnya aliran DHE masuk ke dalam negeri. "Kita tahu bahwa suku bunga di Indonesia, terutama kredit, merupakan salah satu suku bunga tertinggi jika dibandingkan dengan negara peers countries," tuturnya kepada Media Indonesia, Selasa (24/1).
Itu kemudian mendorong pelaku usaha mau tak mau mencari sumber pembiayaan yang lebih murah. Pinjaman dari bank luar negeri menjadi salah satu jawaban untuk menjalankan usaha karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan bank di dalam negeri.
Karena pembiayaan itu berasal dari bank luar negeri, kata Yusuf, mau tak mau pebisnis yang menerima pembiayaan itu harus meletakkan DHE di bank tersebut. Pembiayaan yang didapat dari luar negeri juga dipastikan menggunakan valas, sehingga penempatan dana lebih aman ditempatkan di bank terkait.
"Di saat yang bersamaan, beberapa industri memerlukan bahan baku impor dan untuk membeli bahan baku impor dibutuhkan mata uang valas. Ini yang kemudian menjadi alasan para pelaku usaha industri meletakkan dananya dalam valas di luar negeri. Karena kebutuhan untuk membiayai usaha dalam hal ini dalam konteks pemilihan untuk bahan baku industri," jelas Yusuf.
Selain itu, sektor keuangan di Indonesia juga dinilai belum cukup menarik. Sebab produk yang dimiliki industri keuangan dalam negeri memiliki keberagaman yang terbatas ketimbang industri keuangan luar negeri.
Dengan hal-hal tersebut, upaya menarik DHE parkir di Indonesia dinilai penting. Rencana pemerintah mengubah aturan terkait DHE turut didukung dan diapresiasi. Hanya, pengambil kebijakan juga dirasa perlu mendorong agar pembiayaan dari dalam negeri menjadi lebih kompetitif.
"Salah satu tantangannya adalah bagaimana mendorong suku bunga kredit bisa turun ke level yang rendah. Ini bisa mendorong pelaku usaha industri memilih untuk membiayai usahanya dari pinjaman di dalam negeri," kata Yusuf. "Di luar itu, memperdalam industri keuangan dengan beragam produk keuangan juga menjadi langkah lain yang diperlukan oleh otoritas terkait terutama untuk menstimulasi pelaku usaha industri untuk menempatkan dananya di dalam negeri," pungkasnya. (OL-14)
Rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar AS. Ekonom sebut tekanan ganda dari global dan domestik, BI diminta lakukan triple intervention.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa aturan baru terkait penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) di Himbara telah rampung.
Eksportir nasional akan menghadapi tantangan besar seiring kewajiban penempatan penuh Devisa Hasil Ekspor (DHE) di bank Himbara mulai 1 Januari 2026.
Pemerintah bakal meninjau dan mengubah kembali aturan Devisa Hasil Eskpor (DHE) atas komoditas Sumber Daya Alam (SDA).
Proyek prioritas di sektor hilirisasi dan ketahanan energi nasional dapat menekan penempatan dana ekspor atau devisa hasil ekspor (DHE) di luar negeri.
PADA kuartal pertama 2026, pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan kualitas portofolio mengantarkan PT Bank BTPN Syariah Tbk menorehkan kinerja positif.
RUPST SMBC Indonesia menyetujui pembagian dividen tunai 20% dari laba bersih 2025 dan mengangkat Emilya Tjahjadi sebagai Direktur baru.
Ketahanan Perbankan RI Tetap Kuat Hadapi Risiko Dampak Perang Timur Tengah
DI atas kertas, Indonesia hari ini terlihat kuat. Kita memiliki bantalan fiskal Rp420 triliun, nilai yang tidak hanya besar, tetapi juga menenangkan. Sebanyak Rp120 triliun di Bank Indonesia
Lupa password akun penting? Simak 7 cara praktis mengakses sandi yang tersimpan di HP Android, iPhone, hingga Laptop Windows dan Mac secara aman.
Sidang perkara kredit PT Sritex yang melibatkan mantan pejabat Bank DKI, Babay Farid Wajdi, membahas risiko perbankan dan prosedur mitigasi kredit bermasalah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved