Catat Kinerja Positif, BTPN Syariah Bukukan Laba Rp319 Miliar

Teguh Nirwahyudi
27/4/2026 17:22
Catat Kinerja Positif, BTPN Syariah Bukukan Laba Rp319 Miliar
Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad (kedua dari kiri) dalam acara pemaparan kinerja kuartal pertama 2026 di Jakarta (27/4).(Dok. MI/Teguh N)

PADA kuartal pertama 2026, pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan kualitas portofolio mengantarkan PT Bank BTPN Syariah Tbk menorehkan kinerja positif.

Di kurun tersebut, bank yang memperoleh peringkat AAA dan Fitch dengan prospek stabil pada Februari 2026 membukukan laba bersih Rp319 miliar. Aset mencapai Rp23,2 triliun, tumbuh 7% (yoy), sementara penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,6 triliun atau tumbuh 4% secara yoy. Rasio keuangan tetap solid tecermin dari return on ssset (RoA) sebesar 7,1% dan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 59,2%.

Semua capaian tersebut mencerminkan efektivitas strategi penguatan pendampingan nasabah yang menjadi fokus utama bank dalam melayani masyarakat inklusi.

Penyaluran pembiayaan terus mengalami penguatan melalui model pendampingan untuk meningkatkan kapasitas serta membentuk perilaku unggul nasabah. Setiap pembiayaan diikuti pendampingan agar nasabah mampu menerapkan empat perilaku unggul BDKS, yaitu Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu.

“Momentum kuartal pertama menunjukkan model pendampingan yang kami terapkan berkontribusi pada kualitas pembiayaan. Kami melihat meningkatnya kepercayaan nasabah dan ketahanan usaha akhirnya memperkuat kualitas bank. Kualitas pembiayaan menjadi penopang utama laba kuartal pertama. Pada 2026, bank melanjutkan fokus tahun sebelumnya sambil mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tengah tantangan yang ada.” kata Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad dalam diskusi bersama awak media di Jakarta Senin (27/4).

Fachmy menambahkan keberhasilan penyaluran pembiayaan bank yang memiliki 14,2 ribu karyawan (95% perempuan dan 52% lulusan SMA) itu tidak terlepas dari peran community officer (CO) sebagai garda terdepan di sentra nasabah. Melalui pertemuan rutin sentra (PRS), CO memberikan pendampingan dengan modul relevan dengan kondisi usaha ultra mikro. Selain itu, CO berperan juga sebagai role model dalam penerapan perilaku unggul BDKS sekaligus memperkuat solidaritas antarnasabah.

Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir 2025 total aset keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp3.100 triliun. Angka ini meningkat 8,61% (yoy) ditopang pertumbuhan intermediasi yang  positif.

Hal ini dikemukakan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan tertulis di Jakarta Senin (20/4). “Stabilitas sektor jasa keuangan syariah tangguh dan resilien tecermin dari kinerja intermediasi perbankan syariah yang tumbuh positif,” kata Friderica.

Dari sisi intermediasi, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,58% menjadi Rp705 triliun. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,14% dalam periode sama. Secara sektoral, aset perbankan syariah mencapai Rp1.067 triliun. Sementara pasar modal syariah menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp1.800 triliun diikuti industri keuangan nonbank syariah Rp188 triliun.

Kapitalisasi pasar modal syariah juga mencatatkan kenaikan signifikan  31,4% (tahunan) menjadi Rp8.900 triliun. Hal ini menunjukkan aktivitas pasar modal syariah tumbuh di tengah dinamika kondisi ekonomi. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya