Kesenjangan Pendanaan UMKM Capai Rp2.400 Triliun, Pembiayaan Inklusif harus Diperluas

Ihfa Firdausya
27/4/2026 21:20
Kesenjangan Pendanaan UMKM Capai Rp2.400 Triliun, Pembiayaan Inklusif harus Diperluas
ilustrasi(Antara)

 

Kesenjangan pendanaan masih menjadi tantangan besar bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data proyeksi tahun 2026, kebutuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia diperkirakan menembus angka Rp4.300 triliun. Namun, kapasitas pendanaan yang saat ini terakomodasi baru menyentuh angka Rp1.900 triliun.

Kondisi ini menyisakan financial gap atau celah pendanaan yang sangat lebar, yakni sebesar Rp2.400 triliun pada posisi tahun 2025 lalu. Di tengah situasi tersebut, kehadiran solusi pendanaan yang inklusif menjadi semakin krusial bagi keberlangsungan pelaku usaha mikro di akar rumput.

 

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menegaskan bahwa penyediaan akses pembiayaan yang tepat sasaran terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku UMKM. Merujuk pada Sustainability Report Amartha 2025, akses modal memberikan efek pengganda bagi kesejahteraan mitra.

“Hasil laporan menunjukkan bahwa 89% UMKM binaan Amartha mengalami kenaikan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63% setelah mendapatkan akses pembiayaan. Secara kumulatif, dampak ini telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan kami yang tersebar di lebih dari 50.000 desa,” ujar Andi Taufan.

Ia menambahkan bahwa pembiayaan inklusif bukan sekadar membuka akses modal, melainkan menjadi katalisator bagi pelaku usaha untuk bertumbuh secara berkelanjutan.

Data Dampak Amartha (Sustainability Report 2025):
  • 89% mitra mengalami peningkatan pendapatan.
  • Rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 63%.
  • Menjangkau 3,9 juta UMKM di 50.000 desa.

Peran Teknologi Finansial dalam Inklusi Keuangan

Penguatan akses pembiayaan dinilai menjadi faktor kunci dalam mendorong mobilitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, kesenjangan yang ada menunjukkan masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal.

Kehadiran teknologi finansial, termasuk pinjaman daring, membuat angka inklusi keuangan meningkat, terutama pada masyarakat 40% termiskin. Negara yang mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5% lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsinya. Kondisi itu terbukti dari ekosistem keuangan di pedesaan yang ikut terdorong berkat adanya inovasi digital, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa-desa terpencil.

"Kami berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan. Amartha memposisikan diri sebagai instrumen untuk memperkuat ekosistem usaha mikro dan memastikan setiap penyaluran pembiayaan mampu meningkatkan daya saing UMKM di seluruh pelosok Indonesia," tandas Andi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya