Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) M Nawir Messi mengatakan, siapapun yang akan memimpin pemerintahan Indonesia nantinya akan dihadapkan pada dilema mengenai pertumbuhan ekonomi.
"Dilema, pertumbuhan tinggi versus rendah. Kenapa itu menjadi isu besar? Karena ketika kondisi pertumbuhan tinggi, pasti diikuti impor yang bengkak dan diikuti current account deficit dan akan berpengaruh ke nilai tukar (Rupiah)," kata Nawir dalam diskusi, di Jakarta, Kamis (11/4).
Sementara, sambungnya, kalau pertumbuhan ekonomi rendah, itu akan berdampak pada tingkat pengangguran.
"Siapapun rezim yang akan menyetir perekonomian Indonesia tahun ini dan tahun depan, itu pasti akan dihadapkan pada dilema pertumbuhan," katanya.
Oleh karena itu, menurut Nawir, Indonesia butuh pemimpin yang mengetahui kapan saatnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kapan harus menahannya. "Dibutuhkan supir kapan harus ngerem, kapan harus ngegas," katanya.
Baca juga : Faisal Basri: Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang Kamu Dustakan
Secara terpisah, Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan bahwa Indonesia memiliki kelemahan di industri penghasil input untuk industri.
"Kalau dia tumbuh cepat, maka industri hilirnya membutuhkan impor yang tinggi. Kalau tumbuhnya tinggi, itu impornya meningkat sehingga terjadi current account deficit (CAD)," kata dia.
Karena itu, menurut dia, ekonomi Indonesia masih belum bisa tumbuh ke angka 6,5% atau 7% lantaran itu bisa menyebabkan CAD membengkak. Itu kemudian berdampak pada jebolnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. "Kita ngga bisa terlalu cepat," katanya.
Namun, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi yang berjalan terlalu pelan pun tidak bagus. Pasalnya, itu akan menyebabkan sulitnya penciptaan lapangan kerja.
"Sebab kesempatan kerja butuh pertumbuhan dunia usaha," ucapnya.
Maka itu, ia lebih memilih pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan agak pelan-pelan tapi berkelanjutan.
"Kalau saya mending alon-alon asal kelakon. 5,1%, 5,2%, 5,3%, yang penting pertumbuhan berkelanjutan," kata dia.
Pertumbuhan ekonomi yang saat ini berada di kisaran 5%, menurut Ari, itu sudah on the track.
"Itu pertumbuhan on the track. Itu yang disebut optimal growth. Apa bisa 6% bisa sekarang? Belum bisa. Kata (pertumbuhan) stagnan itu sebenarnya ngga ada, yang ada optimal," pungkasnya. (OL-8)
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
Menkeu Purbaya tegaskan ekonomi Indonesia masuk “survival mode”. Tak ada ruang kesalahan, pajak dan program akan diawasi ketat demi cegah krisis.
PEREKONOMIAN Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2025 tumbuh 5,14% (year-on-year), melampaui rata-rata nasional sebesar 5,1%.
Pemerintah optimistis target investasi Rp2.041 triliun di 2026 tercapai. Realisasi awal tahun sudah Rp498,8 triliun, didorong minat kuat investor global.
Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75% dan memperkuat intervensi pasar demi menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global dan tekanan ekonomi dunia.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah saat ini menjalankan strategi ekonomi dalam “mode bertahan (survival mode) di tengah ketidakpastian global.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa proyeksikan ekonomi RI tumbuh hingga 6% di 2026 saat IMF-World Bank Meeting. Simak strategi hadapi guncangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved